Lagu ciptaannya pernah dinyanyikan diva kondang Indonesia, Ruth Sahanaya. Ia mempelajari not balok secara otodidak.

Ia mulanya menyukai musik sebatas hobi semata. Namun, secara otodidak ia mengasah kemampuannya bermusik. Dari tangannya lahir beberapa lagu berkaliber nasional.

Aceh Barat Daya patut berbangga punya musisi sekaliber ini. Namanya Fahmi Ayus. Dia pula yang mencipta “Mars Abdya”; lagu wajib Bumoe Breuh Sigupai ini.

Fahmi terinspirasi akan musik sejak ia kecil. Kala itu, ia kerap mendengar biduan Malaysia mendendangkan lagu Melayu lewat radio. “Radio yang paling bagus siarannya waktu itu dari Malaysia,” ujar Fahmi ketika ditemui Oktober tahun lalu.

Pada 1975, ia mulai serius menekuni musik. Fahmi berangkat ke Medan untuk rekaman album perdana. Sebagai modal, ia mengambil kredit di bank. Album perdana beraliran Melayu itu tercetak. Tujuan Fahmi membuat album demi membuktikan eksistensinya dalam bermusik.

Sejak saat itu ia terus berkarya, menciptakan lagu demi lagu. Salah satunya, Mars Abdya, lagu yang kini menjadi hymne wajib Kabupaten Aceh Barat Daya. Dalam lagu itu Fahmi mengajak seluruh generasi membangun bumi Persada.

Selain itu, ia juga menciptakan Aceh Membangun. Lagu ini pernah dinyanyikan diva pop Indonesia Ruth Sahanaya di sebuah stasiun televisi nasional. “Pada saat itu luar biasa bangga dan sangat berkesan buat saya. Karena karya saya dinyanyikan oleh seorang Diva, ini terus terkenang bagi saya dan tak kan terlupakan,” ujarnya.

Walau tak pernah mengecap pendidikan musik secara formal, Fahmi mampu membaca not balok. Pada 2013 lalu, ia diminta Pemerintah Provinsi untuk mengajar para guru musik dari seluruh Aceh. Guru-guru musik yang semuanya dididik secara formal dan paham not balok. Namun, berbekal pengalaman, selama 15 hari pelatihan, sebagai tutor Fahmi mampu menjawab semua pertanyaan dari para peserta. “Sampai teknik-teknik pengenalan suara saya sampaikan kepada mereka. Semua peserta mengapresiasi saya karena dianggap telah mampu mentransfer pengetahuan bermusik secara baik,” ujar Fahmi.

Pada Pekan Kebudayaan Aceh keenam di Banda Aceh, Fahmi didapuk sebagai dewan juri lomba paduan suara. Saat para juri yang lain berstatus sebagai guru musik di daerah mereka masing-masing, Fahmi hanya seorang pegawai biasa di Aceh Barat Daya.

Dorongan Fahmi Ayus tetap bermusik datang dari keluarga dan teman-temannya. “Mereka selalu bersama dalam kegiatan-kegiatan bermusik saya,” ujar. Namun, kata penyuka Gambus ini, karir bermusiknya pasang surut. Semuanya dilakukan atas inisiatif sendiri. Bagi Fahmi, tetap berkreasi untuk kesenian tak pernah membuatnya berhenti selama ia bisa.

Berkreasi lewat musik, kata Fahmi, setidaknya harus ditunjang oleh bakat. Sesudah itu, harus ada kemauan kuat untuk belajar musik. Hal ini yang dilakukan Fahmi sehingga ia bisa membaca not balok. Fahmi melahap semua ilmu yang didapat dari pelatihan-pelatihan. Ia mencatat teori dan praktik yang belum diketahui lalu mempelajarinya sendiri. Di sisi lain, Fahmi juga berusaha mempelajari semua alat musik.

Setelah melahirkan dua album, Fahmi kini mengajarkan musik untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Baginya, menyalurkan ilmu kepada generasi muda sebuah kebanggaan. Anak-anak itu diajarkan dari nol cara bermain menggunakan beragam alat musik.

Ke depan, ia punya impian membesarkan musik di Aceh Barat Daya bersama para musisi lainnya. Selain itu, Fahmi juga ingin membuat lagu religi sebagai ikon Aceh Barat Daya. Ia sudah menyurvei ke daerah-daerah lain di Aceh, belum ada lagu religi seperti itu. “Jadi, ketika orang mendengar lagu ini, mereka teringat Aceh Barat Daya,” ujar Fahmi. Alasan Fahmi memilih musik religi karena liriknya mengandung pesan-pesan moral sehingga mudah diterima oleh masyarakat.[] (Hery FM dan Tim Sigupai)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.