SAMBAS, sebuah kota di Kalimantan Barat, mungkin layak disebut permata pariwisata di perbatasan. Di sini, wisatawan domestik dan mancanegara bisa memanjakan diri bersama indah alam Sambas.

“Perbatasan Indonesia Malaysia di Kalimantan Barat jika dieksplorasi, sangat menarik,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Bagi yang suka pantai, cobalah datang ke Temajuk. Jaraknya empat kilometer dari Telok Melano, Malaysia, atau sekitar tiga jam perjalan dari Kabupaten Sambas.

Temajuk, kata Arief Yahya, memiliki garis pantai sekitar 60 kilometer dan kawasan favorit bagi penyu bertelur karena masih alami dengan pasir putihnya.

Ada gugusan bebatuan granit, karang eksotis, dan masih banyak lagi. Penggila snorkeling bebas bermanja-manja dengan keindahan bawah laut Temajuk.

Ingin lebih indah lagi, datangi Teluk Atong, surganya snorkeling. Setelah lelah beraktivitas, pengunjung bisa menikmati matahari terbenam di dermaga Dusun Camar Bulan.

Soal penginapan? Jangan khawatir. Tersedia banyak penginapan layak. Jika penuh, pengunjung bisa menginap di rumah warga.

“Banyak yang bilang tempat ini seperti surga. Sepotong surga di ekor Kalimantan, berandanya Indonesia,” kata Asmani, Kepala Dinas Pariwisata Olahraga Budaya Sambas.

Bersama warga Temajuk, Asmani tak lelah mempromosikan potensi wilayahnya kepada para tamu. Harapannya, pengunjung bisa membawa cerita Temajuk ke luar.

Lebih ujung lagi, ada Aruk. Letaknya di Kecamatan Sajingan Besar. Aruk adalah dusun paling ujung di Kalimantan Barat.

Wilayah daratnya berbatasan langsung dengan Biawak dan Kuching, Malaysia. Soal wisata, Aruk juga tak kalah dengan Temajuk. Bedanya di Aruk tak punya pantai. Tak bisa snorkeling. Namun ada air terjun yang memancarkan panorama eksotis.

Jalan menanjak dengan tingkat kemiringan sekitar 60 derajat sejauh dua kilometer menjadi tantangan bagi yang ingin menjejakkan kaki ke air terjun Riam Berasap. Anda tak bakal merasa lelah, karena panorama sekeliling menakjubkan.

Udara sejuk dan hamparan perkebunan karet yang berkolaborasi dengan tanaman lada milik warga mengelilingi tempat wisata ini. Semuanya masih asli, seolah tak pernah terjamah manusia.

“Ini potensi pariwisata yang besar,” ujar Asmani. Selama ini kami kesulitan memasarkannya, sampai muncul Festival Wonderful Indonesia yang menawarkan solusi.”

Asmani berharap sebagai mutiara, Temajuk kian terasah dan kian banyak orang yang datang.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.