Connect with us

Jelajah

Perbaiki Fasilitas, Karangasem Bali Tawarkan Wisata Spiritual

Published

on

Obyek Wisata Tirta Gangga di Karangasem, Bali | Kompas

BALI adalah ikon pariwisata Indonesia. Bahkan, pameo di banyak negara yang menyebut Bali lebih dikenal ketimbang Indonesia, juga masih sering terdengar. Maklum, 40 persen wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia, lewat Imigrasi Bali.

“Bali bisa menjadi hub bagi destinasi lain. Masuknya ke Bali, menyebarnya ke objek wisata yang lain,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Jumat, 26 Februari 2016.

Kini, kabupaten-kabupaten di Pulau Seribu Pura itu terus berbenah. Salah satunya, Karangasem. Kepala Dinas pariwisata Karangasem Bali, I Wayan Purna menyebutkan mereka sedang gencar-gencarnya memperbaiki fasilitas agar wisatawan tidak hanya berpusat di Kuta dan Sanur saja.

“Banyak orang yang tidak tahu Karangasem, meskipun daerah ini sangat indah. Wisatawan yang ingin menikmati alam yang tenang, alami, asli, silakan datang ke daerah kami. Kami berusaha agar Karangasem makin dikenal, karena keunikan dan kelebihannya,” ujar Wayan.

Persentase peningkatan wisatawan yang masuk Karangasem sekitar 20 persen setiap tahun. ”Memang kondisinya kami agak tertinggal dari infrastruktur daerah Bali yang lain. Karena itu melalui pembenahan berbagai segi, kami buat menjadi daerah wisata yang punya daya pikat untuk dikunjungi,” sambung I Nyoman Adi Sudarmaya, bidang promosi Karangasem.

Adi menjelaskan Karangasem punya kelebihan yang tidak dimiliki daerah lain di Bali. ”Kami punya Pura Besakih, tempat ibadah agama kami. Wisata bawah laut kami juga tidak kalah dengan underwater world wilayah lain, kita optimis ini akan menjadi kekuatan yang dahsyat,” ujar ayah dua anak itu.

Karangasem yang berada di wilayah pedesaan, kata dia, juga menawarkan wisata spritual. “Banyak turis berwisata ke kami dengan ikut tinggal di perkampungan. Mereka sama-sama dengan masyarakat, belanja ke pasar, tidur di rumah gubuk, ternyata itu malah menjadi unggulan,” katanya.

Namun, ada banyak hal yang perlu diperhatikan di Karangasem. ”Selain manusianya harus siap, pembangunan fasilitas juga harus diperhatikan. Saya percaya, wisatawan di Bali akan semakin menyebar luas terutama bisa tersebar hingga Karangasem,” ujar Adi Sudarmaya.

Karangasem merupakan wilayah timur dari Indonesia. Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Karangasem bisa ditempuh dengan jalur darat 1,5 jam lamanya. Tempat destinasi unggulan-unggulan Karangasem adalah Desa spiritual, Pura Besakih, Taman Sukasada Ujung, Candi Dase, Tirtagangga, Puri Agung, Tulamban, Telaga Raffting, Sidemen, Sibetan dan Tenganan yang biasa disebut dengan Desa Tua.[]

Advertisement img-20160906-wa0001
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jelajah

Cuaca Buruk, Pendaki Malaysia Hipotermia di Gunung Leuser

Published

on

By

Tim Pendaki Malaysia | Harian Metro

PENDAKI gunung asal Malaysia mengalami hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara drastis saat mendaki Gunung Leuser.

Seperti dikutip dari laman Badan SAR Nasional, pendaki yang terkena hipotermia itu bernama Ahmad Nazit Rashid, 40 tahun, asal Simpang Teluk Teduri, Kedah. Ia sakit di bagian perut dan hipotermia saat mendaki bersama 12 pendaki Malaysia dan sembilan porter (pengangkut barang) asal Indonesia.

Tim tersebut naik dari Keudah, Gayo Lues, menuju puncak Leuser pada koordinat 03 49 12 Lintang Utara – 097 10 44 Bujur Timur. Informasi ini diterima Kantor SAR Banda Aceh dari Mustaqim warga negara Malaysia pada Sabtu, 10 Desember 2016 pukul 21.27 WIB.

SAR Banda Aceh kemudian memberangkatkan tim penyelamat dari Pos SAR Kutacane berjumlah 6 personil menuju Blangkejeren, Gayo Lues.

Pada Ahad pagi, tim penyelamat tiba di posko Pintu Keudah dan berkoordinasi dengan unsur terkait seperti TNI, Polri, Polhut dan masyarakat setempat untuk melakukan evakuasi.

Namun, karena kondisi lokasi tidak efektif  disepakati tim pendaki untuk turun ke posko dengan membawa korban. Hal ini karena waktu tempuh dari Posko Pintu Keudah ke lokasi Bipak Kaleng kurang lebih enam perjalanan dan cuaca kurang mendukung. Tim SAR gabungan disebut baru mendaki pada hari ketiga, Rabu, 14 Desember 2016.

Harian Metro di Malaysia yang mengutip keterangan Mustaqim dari Global Communication Center menuliskan, 13 pendaki berusia 15 hingga 41 tahun itu memulai pendakian pada 1 Desember. Insiden yang menimpa Ahmad Nazit terjadi pada hari ketujuh pendakian.

Suhu yang mencapai satu derajat celsius ditengarai menjadi kendala utama operasi penyelamatan korban. Hingga Kamis, 15 Desember, nasib pendaki yang terkena hipotermia dan tim serta para porter belum diketahui.

Menurut Mustaqim dalam tim ekspedisi Malaysia Trans Lung 2016 itu juga terdapat tiga pendaki wanita. Tim dilaporkan tiba pada Base Camp Jalur Keudah, Leuser, pada 2 Desember setelah 20 jam perjalanan darat dari Medan.

Setelah sepekan mendaki, kata Mustaqim, tim tiba di Kamp Bipak Kaleng pada ketinggian 2,972 meter saat cuaca buruk.

“Mereka terpaksa berhenti akibat cuaca buruk tetapi secara tiba-tiba Ahmad Nazit mengalami hipotermia. Suhu badannya jatuh mendadak dan degup jantungnya menjadi lemah,” ujarnya.

Saat itu, kata dia, ketua tim Khairil Aslan berada di ketinggian 3,404 meter bersama tiga porter dari Aceh.

“Khairil Aslan naik ke puncak gunung untuk mendapatkan bantuan dan berhasil menghubungi saya Sabtu lalu pada 6.38 petang melalui ‘distress call’,” ujar Mustaqim. Ia kemudian menghubungi Badan SAR Nasional pada jam delapan malam.

Tim sedianya dijadwalkan kembali ke Malaysia pada 17 Desember.[]

HARIAN METRO | ASTRO AWANI | VIVA

Continue Reading

Jelajah

Pria Buta ini Mampu Taklukkan Terjalnya Tebing El Capitan

Published

on

By

ERIK Weihenmayer, 48 tahun, menjadi orang buta pertama yang berhasil memanjat tebing El Capitan kurang dari 24 jam pada Senin, 26 September 2016.

Weihenmayer didampingi tim yang terdiri dari para pemanjat dan pendaki gunung veteran. Beberapa nama terkenal seperti Hans Florine (pemegang rekor memanjat El Capitan sebanyak 177 kali), Timmy O’Neillm, Geoff Tabin, dan Charley Mace termasuk di dalam tim.

Tim memilih East Buttress sebagai rute pendakian yang merupakan jalur terpendek mencapai El Cap, terdiri atas 11 puncak dengan tinggi 1.500 kaki vertikal.

Weihanmayer yang masuk dalam daftar National Geographic Adventurer 2015 mengatakan ingin melakukan panjat tebing dengan gaya bebas. “Rute East Buttress membuat saya yakin, dapat melakukannya (mencapai puncak) dalam satu hari,” ujar Weihanmayer.

tebing-el-capitan

Tebing El Capitan | Foto: TravelGumbo.com

Hans Florine berperan sebagai pemimpin dalam pemanjatan ini. Setelah Florine mencapai bagian atas setiap puncak, ia akan mengarahkan tali untuk Weihenmayer. Mace yang memanjat tali Florine dan membenarkan pelindung. Kemudian, ia akan memberi petunjuk secara verbal pada Weihenmayer yang berada tak jauh darinya.

“Ini sungguh menegangkan melihat Erik memanjat,” kata Florine. Bahkan dengan instruksi lisan langsung, ia masih harus menemukan tali penahan dengan tangannya. Ini merupakan hasil dari kekuatan dan keuletan. Florine melanjutkan, “Ia (Weihenmayer) terus memanjat dengan satu lengan terkunci, sementara tangan lainnya menyapu tebing,” jelas Florine.

Weihenmayer gemar olahraga panjat tebing sejak remaja, tak lama setelah kehilangan penglihatannya karena retinoschisis.  Weihenmayer mengungkapkan bahwa sebaik apapun ia memanjat, takut jatuh tak pernah hilang dari benaknya. Bahkan ketika dia berada di ujung tali, cara yang relatif paling aman terhindar dari jatuh, ia takut terayun dan menghempas batu.

Bagaimanapun, rasa takutnya tak pernah menghalanginya mencapai puncak tebing. “Saya ingin terus mendaki selama saya bisa,” ujarnya.

El Capitan salah satu tebing paling terjal yang berada di Taman Nasional Yosemite, California, Amerika Serikat. Tinggi batuan granit monolitnya 914 meter. El Capitan merupakan tempat terfavorit di dunia untuk memanjat tebing dan terjun bebas. Jarang ada pemanjat dapat menaklukkan tebing ini.[]

NATIONAL GEOGRAPHIC

Continue Reading

Jelajah

Pontianak Gelar Gowes to Eclipse Saat Gerhana Matahari Total

Published

on

By

Ilustrasi

PONTIANAK, ibu kota Kalimantan Barat, punya acara istimewa saat Matahari, Bumi dan Bulan sejajar, yaitu Gowes to Eclipse Pontianak 2016.

Bersepeda santai ini akan dimulai di Taman Digulis di Jalan Ahmad Yani, menuju BPAA Lapan Pontianak. Pesertanya, mereka yang ingin bersepeda sehat seraya menikmati fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT).

Perhelatan itu melibatkan Kementerian Pariwisata, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Barat, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Aspersi) Kalbar, Lapan Pontianak, dan warga kota di bawah garis khatulistiwa itu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan gagasan itu sederhana, tapi respon masyarakat luar biasa. Karena, kata Arief, orang butuh saling bercerita soal gerhana. “Atraksi besarnya dibuat Tuhan, kita tinggal memeriahkannya dengan berbagai event,” ujarnya.

Ada doorprize menarik bagi peserta. Juga ada kuis seputar GMT. Semuanya disiapkan Aspersi Kalbar.

Lapan juga tak mau ketinggalan. Muzirwan, kepala BPAA-Lapan Pontianak, mengatakan siap memfasilitasi mereka yang berminat melihat GMT  dengan teleskop Sky Rover, 180 kacamata khusus, dan live video streaming dari berbagai daerah yang dilintasi GMT di 12 propinsi di Indonesia.

“Video streaming ini difasilitasi Kominfo, dan kami juga mengundang 18 sekolah dan perguruan tinggi untuk mengedukasi masyarakat,” ungkap Muzirwan.

Ada dua lokasi yang untuk melihat GMT, Ketapang dan Sukadana. Di dua lokasi ini, GMT akan berlangsung dua menit. “Kami akan mendisplay Gowes to Eclipse Pontianak di setiap hotel dan restoran,” kata Yuliardi Qamal, ketua PHRI Kalbar.[]

Continue Reading

Copyright © 2015