Connect with us

Tabek

Pedal Kereta

Published

on

PAGI ini, sembari menyesap kopi dan menikmati pagi yang bermandikan cahaya, saya membaca sebuah tweet dari Kementerian Perhubungan. Isinya, tak penting-penting amat bagi hidup saya: “#KawulaModa, pada perjalanan kereta api, Deadman Device atau Deadman Pedal wajib tersedia dan berfungsi baik pada kabin masinis”.

Selain tak penting, tweet itu sebenarnya berisi sebuah ejekan, buat saya tentunya. Tak jauh dari bangku saya duduk, di antara pohon kuda-kuda dan tiang-tiang yang mengibarkan bendera 17 Agustus, ada bentangan rel yang juga sedang berjemur “menikmati” matahari pagi.

img-20160906-wa0001

Rel-rel itu kini dipenuhi ilalang sebagiannya. Di tengahnya tumbuh semak. Sampah plastik, ampas tebu hingga potongan batang kelapa teronggok di atasnya. Di beton penyangga di bawahnya, butir-butir kotoran kambing telah mengering–aman jika dipijak. Namun, yang paling kontras dari itu hadirnya perdu-perdu kecil berbunga warna-warni.

Keponakan saya, Rara, sering bermain di rel itu. Rara yang usianya belum lagi lima tahun itu sering memetik bunga kecil warna-warni itu. “Bunga-bunga rel” itu ia petik sebanyak-banyaknya lalu dijejerkan di atas rel. Setelah itu, ia mulai “memasak” menu yang diciptakannya sendiri di kepala.

Ia tak perlu takut ada kereta api lewat. Yang perlu ia waspadai, pertama, rombongan kambing dan sapi, yang lewat pada jam-jam tertentu. Sapi-sapi dan kambing-kambing itu–namanya juga rombongan–akan lewat bersama ayah, ibu, kakak, tante atau bahkan kakeknya, sambil memamah rumput yang terselip di sela-sela rel.

Suatu hari, saya dan Rara pernah iseng. Kami bermain tebakan, untuk menandai sapi mana di dalam rombongan itu yang menjadi ayah, anak, ibu, atau kakeknya. Tebakan itu akan berakhir dengan teriakan Rara yang mengusir sapi/kerbau itu menjauh dari beranda belakang rumah neneknya itu.

Yang kedua yang perlu diwaspadai adalah manusia lewat. Karena kereta tak pernah lewat, rel menjadi jalan tak resmi. Banyak orang mengambil jalan itu untuk pulang ke rumah atau sekadar melintas ke kedai depan. Jika ada orang lewat, Rara akan terganggu. Jika orang dewasa tak dikenalnya, biasanya ia hanya menatap orang itu lalu orang tersebut menyadari ada sesuatu di atas rel, yakni “menu” masakan tadi. Bila anak kecil seusianya yang lewat, biasanya juga bergerombolan, Rara akan berteriak kepada mereka agar jangan menginjak bunga-bunga itu.

Tak jauh dari rel tempat Rara menaruh bunga, sebagian rel telah dibongkar dan dijadikan jalan kampung. Jalan ini menjadi penghubung warga untuk menuju jalan besar. Saya tidak tahu pasti alasan kenapa rel itu dibongkar. Mungkin warga jenuh menanti kereta api Aceh yang tak kunjung beroperasi. Kini, sekitar delapan kilometer ke arah Barat dari rumah nenek Rara, memang ada beberapa gerbong kereta api yang beroperasi. Kereta api itu “ngepos” di Stasiun Bungkah, Aceh Utara. Namun, saban sore kereta hanya bolak-balik untuk mengantar pengunjung bertamasya dengan rute Krueng Mane-Bungkah-Krueng Geukeuh sejauh 11,3 kilometer.

Mungkin bagi Rara, tak penting kereta api itu lewat atau tidak. Jika pun lewat tentu ia akan terganggu karena tak bisa lagi bermain masak-masakan. Atau, mengayuh sepeda di jalanan rel itu saban sore bersama teman-temannya. Rara tetap semangat mengayuh sepeda itu walaupun pedalnya telah rusak dan hanya menyisakan dua potong besi sebagai penumpu tapak kaki. Ia sumringah karena telah mampu menyeimbangkan sepeda tanpa bantuan dua roda kecil di kiri kanan.

Ketika membaca tweet soal pedal kereta api dari akun Twitter Kementerian Perhubungan itu, saya mencoba membayangkan seperti apa bentuk pedal itu. Mirip pedal gas mobilkah atau seperti pedal sepeda Rara yang hanya menyisakan dua bilah besi berkarat itu? Pun, ketika membayangkan itu, saya dibarengi perasaan bersalah. Kenapa harus mereka-reka bentuk pedal kereta api di Aceh yang entah tahun berapa ia ada, sedangkan pedal sepeda Rara belum juga terpasang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tabek

IBU

Published

on

By

ilustrasi

TIAP anak pasti punya ibu, berapa pun usianya. Umumnya, ibu adalah sosok penting yang sangat berperan dalam tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Ibu merupakan orang tua perempuan melalui hubungan biologis maupun sosial. Panggilan untuk seorang ibu (apa pun sebutannya), dapat pula diberikan kepada perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis). Misalnya, orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (isteri ayah biologis anak).

Hampir semua bangsa di dunia mengakui peran penting ibu, memuliakan kodrat perempuan, yang merupakan satu-satunya jenis kelamin yang mampu melahirkan anak. Berbagai studi juga menyebutkan komunikasi antara ibu dan anak, bahkan telah ada jauh sebelum sang anak dilahirkan, ketika masih dalam kandungan ibunya.

img-20160906-wa0001

Namun, secara faktual kita menyimak hubungan tak mesra antara ibu dan anak. Misalnya, ada ibu yang menelantarkan anaknya, ada ibu yang bersedia menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang lain, bahkan ada pula ibu yang rela menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Tapi, dalam banyak kasus, penyimpangan semacam itu sangat kompleks penyebabnya. Tidak semata-mata dapat kita lekatkan kesalahan hanya pada sang ibu semata.

Islam menempatkan ibu dalam kedudukan yang tinggi. Allah memerintahkan untuk berlaku baik pada kedua ibu dan bapak kita. Rasulullah Muhammad SAW, dalam salah satu hadits sampai tiga kali menyebut ibu sebagai orang nomor satu, sebelum menyebutkan: “Bapakmu.”

Untuk itu, penghormatan senantiasa kita beri kepada ibu. Perempuan yang melahirkan, membesarkan dan memberikan dasar-dasar bagi kita untuk memasuki dunia orang dewasa. Mungkin ada masa kita berjarak secara fisik, psikologis dan sosial dengan ibu. Namun, hampir pasti, dalam masa-masa kritis kehidupan seorang anak, sosok ibu sangat berarti untuk menenangkan diri. Hal yang tidak selalu berlaku, bila sang ibulah yang mengalami masa kritis. Namun, apa pun yang terjadi, seperti kata pepatah lama, cinta ibu memang sepanjang jalan.

Ada seorang ibu berkata, “No matter how old you are, how grey your hair might be, you are still and forever be my baby.” Tak peduli berapa gaeknya pun engkau, berapa kelabu rambutmu, engkau tetap dan selamanya akan selalu menjadi anak bayiku.

Seringkali, selain cintanya, kehadiran ibu pun menjadi sesuatu yang taken for granted, atau “memang sudah seharusnya begitu.” Sehingga kita terlupa untuk menghargainya. Sampai, mungkin, suatu saat Tuhan menegur kita, dengan mengambil ibu kita. Bukan dengan cara memanggilnya pulang ke alam baka, melainkan sekadar dengan “mengambil” rohnya, kepribadiannya, atau segala yang kita kenal darinya. Yang tinggal hanya sosok tubuh, tanpa jiwa.

Rasanya mustahil, ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan kita, akan lupa pada kita. Namun itulah yang terjadi pada ibu kandung dua pengarang yang menuliskan kisah pengalaman mereka kehilangan ibu, dalam buku berjudul “Ketika Ibu melupakanku.” Ibundanya yang terkena penyakit Alzheimer, suatu penyakit degradasi syaraf pusat, tidak lagi mengenali anaknya. Saat itulah sang anak menyadari, betapa menyakitkannya kehilangan sosok pengayom yang telah memberinya cinta dan kehidupan. Lebih menyakitkan lagi karena tubuhnya masih ada, dekat dan terjangkau, namun jiwanya telah tiada.

Di dalam Al Quran Allah telah memperingatkan, bahwa suatu saat nikmat yang kita peroleh akan dicabutNya, agar kita tak lupa bersyukur. Memiliki Ibu yang bisa mengomeli, merecoki dan ingin tahu semua urusan kita, Ibu yang mencereweti dan melarang kita melakukan yang kita inginkan, ternyata adalah suatu nikmat. Nikmat tak terhingga, yang mungkin baru akan kita sadari setelah Ibu diambil dari sisi kita. Baru kita sadari, betapa tergantungnya kita pada beliau. Simaklah secarik bait dari Il Divo, grup musik Eropa, dalam lagu “Mama”: Mama thank you for who I am, thank you for all the things I’m not, forgive me for the things unsaid, for the time I forgot.

Jadi, sebelum terlambat, mari berikan pada ibu, apa yang menjadi haknya: perhatian dan cinta. [NM]

Continue Reading

Tabek

Usaha Gampong

Petani memanen biji kopi arabika di lahan pertanian Desa Sungai Rumpun, Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi.

Published

on

By

ANTARA

Badan Usaha Milik Gampong atau BUMG, mulai jadi pilihan warga. Mulanya, mungkin saja karena ada desakan terkait suatu program pemerintah. Namun kini, di beberapa gampong, diakui telah dirasakan bahwa usaha bersama milik warga itu berpotensi mengubah desa menjadi lebih punya harapan untuk maju. BUMG, bila ditangani secara patut, diyakini dapat mengentaskan desa dan warganya dari lilitan tantangan yang pelik.

Berbagai cara sudah digulirkan ke desa. Namun, badan usaha tersebut masih saja terkesan asing bagi sebagian besar warga desa. Padahal, bila telah memiliki BUMG, yang sebagian besar modalnya merupakan kekayaan gampong yang dipisahkan, usaha-usaha yang menguntungkan berpotensi untuk menyejahterakan warga.

img-20160906-wa0001

Karena itu peran warga yang memiliki keterampilan mengelola aset, memiliki kepedulian untuk memajukan gampong dan pandai mengendus bisnis yang pas untuk dijalankan BUMG, sangat dibutuhkan. Bila di gampong belum tersedia tenaga yang mumpuni, maka harus ada warga yang berminat untuk belajar dan bersedia memajukan usaha milik bersama tersebut.

Kita yakin, gampong yang ada di Aceh Barat Daya memiliki potensi cukup baik untuk mendirikan BUMG. Hanya saja, keinginan para aparatur dan warga haruslah sama, perlu dipadukan terlebih dulu. Tujuannya, agar dapat disepakati jenis usaha dan cara berusaha bagaimana yang tepat untuk gampong tersebut.

Bila keinginan warga telah dipadukan dengan potensi yang tersedia di gampong, barulah kita menemukan orang yang tepat untuk mengelola badan usaha miliki bersama tersebut. Apalagi, secara legislasi, pada 18 Desember 2013, RUU Desa telah disetujui DPR RI untuk disahkan. Peran BUMG kian strategis di semua gampong. Artinya, gampong yang telah terbiasa mengelola BUMG, akan siap pula bila RUU Desa tersebut diundangkan dan dijalankan.

Kita sadar, sumberdaya manusia di gampong memang masih perlu ditingkatkan. Penguatan dari segi pengelolaan BUMG harus tak henti dilakukan. Selain itu, warga perlu pula diberikan pemahaman secara patut bahwa BUMG, meski milik bersama, tapi haruslah dikelola secara professional, transparan dan akuntabel. Dengan cara itu maka usaha milik gampong akan dipahami warga sebagai institusi bisnis, dan sekaligus memiliki peran sosial juga.

Kalaulah selama ini koperasi kerap dipersepsikan sebagai badan hukum yang dikelola secara serampangan, maka BUMG kita harapkan benar-benar dijalankan sesuai kesepakatan dan regulasi yang dibuat bersama oleh warga dan aparatur desa. BUMG bukanlah milik pengurus atau perangkat desa. BUMG harus menjadi entitas legal yang memiliki usaha menguntungkan. Usaha, yang labanya juga dapat dinikmati seluruh warga gampong. Baik secara langsung mau pun tak langsung.

Barangkali, nantinya, akan ada gampong yang menjadikan BUMG sebagai pusat kebutuhan dan ekonomi warga. Dapat saja BUMG mennggantikan peran pedagang pengumpul, menjadi saluran distribusi untuk seluruh kebutuhan warga dan menjadi penyangga dan sekaligus pengungkit ekonomi rakyat.

BUMG dapat pula memperkuat usaha perseorangan yang telah eksis di gampong. Dengan demikian, kehadiran BUMG benar-benar menjadi rahmat, bermakna bagi seluruh warga.[]NM

Continue Reading

Tabek

Teluk Surin

Published

on

By

JUFRI Hasanuddin tampak sumringah. Salah satu hasrat dan ikhtiarnya sejak memimpin Aceh Barat Daya, pada 14 Agustus 2014, diamini Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Pengembangan pelabuhan Susoh di Teluk Surin telah dimasukkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN). Kabar ini seperti hadiah menarik yang ditunggu-tunggu, persis dua tahun Jufri menjadi bupati.

Susoh dan Teluk Surin, secara historis memang merupakan dua bandar penting. Pelabuhan Susoh dan Teluk Surin (Lama Tuha), pernah jaya sebagai titik singgah utama kapal-kapal dagang manca negara di kawasan ini. Sekarang pun, posisi Aceh Barat Daya dinilai strategis di kawasan barat-selatan Aceh, diapit delapan kabupaten tetangga dengan keunggulan masing-masing yang beraneka.

img-20160906-wa0001

Sejak sebelum mekar dari Aceh Selatan, Blangpidie yang kini jadi ibu kota kabupaten, dikenal sebagai kota dagang yang cukup diperhitungkan. Pemerintah Aceh pun secara legislasi menempatkan Aceh Barat Daya sebagai titik sentral distribusi dan perdagangan di kawasan ini (Aceh Trade and Distribution Center – ATDC) dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Aceh (RTRWA).

Kini, dengan adanya komitmen Pemerintah Republik Indonesia dengan dukungan penuh Pemerintah Aceh untuk mengembangkan Pelabuhan Susoh di Teluk Surin sebagai pelabuhan regional, maka kawasan pantai barat selatan dapat lebih terbuka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Kita tahu, pelabuhan laut hanyalah salah satu sarana untuk memindahkan barang dan jasa melalui moda transportasi laut. Dukungan sektor lain tentulah kian mendesak untuk segera dirumuskan.

Potensi yang ada di kawasan barat-selatan Aceh, perlu dipapar lebih terang. Tidak hanya dilihat dalam kotak-kotak administrasi pemerintahan kabupaten belaka. Sudah waktunya para elit politik dan pelaku usaha di kawasan barat-selatan, mencari cara patut untuk sama-sama mengukuhkan kekuatan masing-masing dan saling mendukung ke arah kemajuan bersama. Menemukan kekuatan dan berjuang bersama di era global seperti sekarang ini kita yakin kian mendesak untuk dilakukan secara patut.

Pemerintah, kita harapkan sesungguh hati memfasilitasi agar denyut ekonomi rakyat bergerak lebih maju lagi. Dunia usaha dibantu untuk hidup dan berkembang sesuai dengan kekuatan yang tersedia. Inovasi pelayanan yang selama ini ada dalam tumpukan konsep reformasi birokrasi perlu diarahkan untuk sebesar-besarnya mendukung upaya pemerintah menyejahterakan rakyat di kawasan ini.

Cara kita memandang potensi dan kekuatan yang ada di masing-masing kabupaten di kawasan ini harusnya mulai dikerucutkan pada mendukung keunggulan masing-masing. Dengan cara demikian, maka semua kabupaten yang ada di kawasan ini dapat bertumbuh dengan baik dan lebih padu. Jangan sampai semua daerah melakukan semua hal, persis seperti kabupaten tetangga. Namun, masing-masing daerah saling menguatkan potensi strategis yang ada dan berjuang bersama ke propinsi dan pemerintah pusat secara meyakinkan. Hanya dengan kebersamaan, cita-cita kawasan sejahtera dapat menjadi nyata.

Bila Teluk Surin kita sepakati menjadi pintu keluar komoditas unggulan di kawasan ini melalui samudera menuju bandar utama di pusat-pusat pasar dunia, maka kabupaten lain di sekitarnya tentu perlu pula dikuatkan, agar dapat menyangga dari segala segi dan mendongkrak potensi utama mereka. Dengan begitu, kita dapat bangkit untuk sama-sama berdaya. Tabek! []NM

Continue Reading

Copyright © 2015