WAKIL Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia Abdillah Ahsan meyakini naiknya harga rokok tidak akan menurunkan kinerja industri rokok maupun merugikan petani tembakau. Sebab, masih ada hal-hal lain yang menjadi faktor utama dari turunnya produksi rokok.

“Kita jangan sampai menyandarkan pertumbuhan ekonomi kita pada industri rokok. Apa yang kita lakukan ini adalah pengendalian permintaan konsumsi masyarakat atas rokok. Kalau ditanya apakah akan menghilangkan industri rokok, saya kira tidak,” ujar Abdillah di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat, 2 September 2016.

Menurutnya, penurunan kinerja industri rokok dan tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dikarenakan adanya pergantian proses produksi, dari tenaga manusia menjadi tenaga mesin.

“Ada yang bilang kenaikan cukai rokok bikin industri kecil akan mati, itu tidak benar. Karena dalam tiga tahun terakhir justru pendapatannya tidak bertumbuh. Mereka mati karena kalah oleh industri rokok besar,” imbuhnya.

Abdillah juga meyakini dampak kerugian di petani tembakau tidak akan langsung terasa, begitu juga dengan industri rokok. Sehingga, kenaikan cukai rokok tidak akan berdampak secara langsung, namun justru membawa keuntungan bagi masyarakat Indonesia.

“Apabila ada dampak ke petani tembakau ini dampaknya lama. Di Thailand, kenaikan harga rokok dampaknya bisa 20 tahun mendatang. Jadi kita masih bisa antisipasi. Memang industri akan menurun, tapi tidak sampai menghilangkan.”[]

MERDEKA.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.