MENTERI Pariwisata Arief Yahya optimis pembangunan Kawasan Danau Toba segera rampung. “Pembangunan tidak boleh mandeg. Point of no return. Progresnya harus jelas, karena bakal ditinjau Presiden Joko Widodo pada 1 dan 2 Maret,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Senin, 29 Februari 2016.

Critical success pembangunan Kawasan Danau Toba adalah single destination multi management. Artinya, satu destinasi dikelola tujuh chief executive officer (CEO), yaitu Bupati Samosir, Bupati Toba Samosir, Bupati Simalungun, Bupati Tapanuli Utara, Bupati Karo, Bupati Dairi, dan Bupati Humbang Hasundutan.

Akibatnya, tidak ada yang bisa membuat keputusan mutlak, yang diikuti seluruh wilayah di Toba. “Itulah yang menjadi titik kritis dan membuat Toba tidak berkembang,” ujar Arief Yahya.

Langkah pertama Arief adalah menyatukan tujuh CEO. Menurutnya, tidak ada pilihan lain kecuali bersatu untuk membuat Danau Toba maju.

“Akhirnya, tujuh bupati sepakat bersatu Itulah awal optimisme kami membangun Danau Toba,” jelas mantan Dirut PT Telkom ini.

Solusi yang disiapkan Arief adalah membentuk Badan Otorita DPN Danau Toba, sebagai implementasi konsep single destination single management. Satu badan yang diketuai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya RI, dan Ketua Pelaksana Harian Menteri Pariwisata.

Lalu pengelolaan secara terpadu, berbasis geopark, dan mengalokasikan anggaran secara proporsional untuk pembangunan pariwisata.

Pada 27 Agustus 2015, Arief Yahya menegaskan, yang paling mendasar untuk menghidupkan pariwisata Danau Toba adalah kekompakan, satu visi, satu komando, satu tujuan, satu spirit, untuk mengelola kawasan terpadu Danau Toba. “Atraksi, aksesibilitas dan amenitas itu dibangun untuk menjaga nilai competitiveness (daya saing), dan sustainability (keberlangsungan).”

Berikutnya, menyusun Integrated Planning, termasuk zonasi dan delineasi KSPN Danau Toba sekitarnya. Kedua, pembangunan infrastruktur bersama-sama meliputi pembangunan dan peningkatan jalan nasional dan tol, peningkatan kualitas bandara, dan rehabilitasi dermaga Mogang Palipi, Meat, Simanindo, Tiga Ras dan P Sibandang.

Ketiga, pengembangan Danau Toba sebagai Global Geopark Network. Keempat, pelayanan satu pintu. Terakhir, skema insentif untuk investasi dan bisnis.

Kelimanya membutuhkan dukungan Men-PUPR, Menhub, MenLHK, Men BUMN, Men ESDM, Meneg Perencanaan Pembangunan/Kepala Bapenas, Men ATR,  Menhumham, MenKKP, Gubernur Sumut dan Menkomar.

Men-PUPR menyatakan akan membangun tol Medan–Kualanamu–Perbarakan–Tebing Tinggi sepanjang 61 kilometer, dan selesai pada 2017. Juga ada peningkatan struktur jalan Silimbat-Siborong-borong-BTS. Kota Tarutung, Jalan Kota Tarutung, Siantar-Silimbat-BTS. Kab. Simalungun-Silimbat, Silimbat-BTS. Kab. Taput, Jalan seksi Lau Lisang. Percepatan pengusulan status jalan lingkar Danau Toba sebagai jalan nasional.

Menhub juga sudah meninjau dan memutuskan untuk peningkatan kualitas Bandara Kualanamu, Bandara Silangit, dan Sibisa yang akan diperpanjang runway-nya.

“Badan Otorita inilah yang berfungsi sebagai share infratructure. Membangun infrastruktur dasar untuk memberi kemudahan pada akses ke Toba,” kata Arief.

“Langkah strategis percepatan Danau Toba adalah penetapan Perpres Badan Otorita Toba, dan Perpres Percepatan Pembangunan Infrastruktur di Triwulan I 2016. Setelah itu, triwulan II 2016 Penetapan Perpres Zona Badan Otorita atau Zona Otorita. Mudah-mudahan tuntas bulan Maret 2016,” lanjut Arief Yahya.

Lebih lanjut juga membentuk Tim Shadow Management untuk kawasan Toba. Mereka yang ikut memikirkan share infrastructure yang bisa dikeroyok bersama-sama untuk menjadikan Toba sebagai destinasi kelas dunia.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.