Connect with us

Ekonomi

Cara Google Meraup Laba di Indonesia

Published

on

ilustrasi google doodle

MESIN pencari Google kini sedang mencari incaran jawatan pajak di Indonesia. Google diminta membayar pajak atas bisnisnya yang dijalankan di Indonesia.

Direktorat Jenderal Pajak sedang mengejar kewajiban pajak Google Asia Pacific Pte Ltd. Namun, Google yang berkantor di Singapura ini menolak membayar pajak. Perusahaan multinasional ini mengembalikan surat perintah pemeriksaan.

Google dianggap mengemplang pajak karena belum menjadi badan usaha tetap (BUT) alias belum menjadi wajib pajak. Kantornya di Indonesia selama ini hanya bersifat sebagai perwakilan, bukan kantor tetap.

Merespons sikap Google ini, pengusaha meminta pemerintah terus mengejar kewajiban perusahaan itu. Sebab, siapapun yang memperoleh penghasilan dari bisnis di Indonesia dikenakan pajak.

Laporan terbaru Reuters memperkirakan sepanjang tahun 2015 Google menunggak tagihan pajak lebih dari US$400 juta atau setara Rp5,2 triliun.

“Kalau dia cari keuntungan di Indonesia, ya harus bayar pajak. Kita saja cari keuntungan bayar pajak,” ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, Sabtu, 17 Desember 2016.

Mengejar pajak dari Google memang bukan perkara mudah sebab statusnya yang bukan BUT tak mewajibkan Google membayar pajak di Indonesia. “Kami akan coba melakukan negosiasi agar mereka mau membayar pajak, terutama dari isu fairness atau keadilan, karena upaya ini berhasil di Inggris,” kata Haniv, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, Kamis, 15 September 2016.

Selama ini, yang meraup pajak dari Google untuk operasinya di kawasan Asia Pasifik adalah Singapura. Ini karena pajak di Singapura memang terendah di Asia Tenggara. Pajak korporasi di Negeri Merlion itu hanya 17 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang 25 persen. Pajak perorangan di Singapura juga jauh lebih rendah dari Indonesia.

Indonesia tentu tak terima sebab penghasilan Google jauh lebih banyak didapat di Indonesia dibandingkan Singapura. Pengguna akun Gmail, Youtube, atau Google+ juga lebih banyak di Indonesia dibandingkan dengan Singapura.

Bicara penghasilan, hingga kini Google tak jarang membuat penasaran banyak pihak mengenai sumber pendapatan dan keuntungan perusahaan. Google yang merupakan anak perusahaan Alphabet Inc, tercatat sebagai salah satu perusahaan dengan saham paling bernilai di Wall Street.

Meski beroperasi dalam bidang teknologi, mayoritas pendapatan Google berasal dari iklan digital yang mereka panen. Mantan Manajer Produk Google, Rob Ennals dalam situs tanya -jawab Quora menjelaskan bahwa mesin pencari Google adalah sistem monetisasi yang jauh lebih baik ketimbang iklan yang muncul di situs web pada umumnya.

“Orang bisa menganggap bahwa Google ini serupa biro jodoh yang menolong penggunanya menemukan pengiklan yang memiliki produk yang mereka butuhkan,” tulis Rob dalam tanya-jawab pada 6 September lalu.

Lalu, bagaimana Google menjadi tempat paling menarik bagi perusahaan untuk memasarkan produk mereka? Berikut beberapa produk yang menjadi sumber “tambang emas” utama bagi Google.

1. Google AdWords
Banyak perusahaan di berbagai negara menggunakan layanan Google AdWords dengan tujuan produk mereka bisa dilihat oleh target audiens yang sesuai kriteria. Google mengembangkan sistem algoritma khusus yang terhubung dengan mesin pencari yang canggih. AdWords memasang tarif per klik bagi perusahaan yang ingin memakai jasanya.

Pada 2011, AdWords menyumbang sekitar 70 persen dari total pendapatan iklan Google dengan sektor terlaris yakni keuangan, asuransi, ritel, dan perjalanan.

2. Google AdSense
Produk Google satu ini membantu pemilik situs membuka lapak bagi iklan produk perusahaan lain. Cara kerjanya berbeda dengan AdWords, karena tautan iklan AdWords muncul di posisi teratas halaman pencarian Google. Pengiklan juga dikenakan tarif per klik untuk setiap AdSense. Tarif tersebut dibanderol sekitar US$0,01 hingga lebih dari US$100.

3. AdMob
Jika kalian sering menemukan iklan yang muncul saat memakai aplikasi tertentu, besar kemungkinan itu berkat teknologi AdMob. Produk ini khusus dibuat untuk perangkat mobile yang pasarnya kian meluas.

Ketiga produk di atas merupakan sumber penghasilan utama Google untuk menjaring profit sebanyak-banyaknya dari pengiklan. Lalu apa yang ditawarkan Google kepada para pengiklan hingga mereka berani membayar mahal untuk setiap klik agar produk mereka laku?

Jawabannya adalah data yang diperoleh dari berbagai layanan yang dimiliki Google dan ditawarkan secara gratis untuk penggunanya. Berikut beberapa layanan yang umum dipakai oleh masyarakat di Indonesia.

Google Chrome
Mesin perambah ini memungkinkan Google mengetahui setiap informasi dan situs pencarian yang paling sering dikunjungi penggunanya. Tentu saja berujung pada penerapan jenis iklan yang relevan dengan jenis pencarian yang diklik penggunanya.

Youtube
Tak ada situs berbagi video gratis yang dapat mendekati pencapaian Youtube. Pengiklan bisa menempatkan produk mereka di tengah-tengah video yang disaksikan pengguna. Situs berbagi video ini juga membuka kesempatan bagi pengguna untuk membuat konten dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

Gmail
Google menyimpan setiap surel beserta dokumen yang pengguna miliki. Pengiklan bisa menyisipkan iklan pada layanan surel pengguna. Sementara untuk pebisnis, domain email perusahaan memungkinkan pengguna mengaksesnya lintas perangkat secara realtime.

Google Search
Setiap informasi pribadi seperti hobi, kebutuhan politik, agama, berada dalam kantong pencarian Google.

Google PlayStore
Toko aplikasi ini adalah tempat bagi para penerbit aplikasi, buku, dan konten berbayar ataupun gratis. Setiap layanan yang diunduh atau dicari pengguna adalah tambang data bagi Google untuk menyuntikkan konten yang sesuai dengan ‘kebutuhan’ pengguna.

Google Maps
Perusahaan asal California in imencatat berbagai lokasi yang akan, sedang, dan telah dicari serta dikunjungi pengguna setiap harinya. Melalui Maps membantu Google memetakan kebiasaan bepergian penggunanya.

Google Wallet
Google juga dapat mengetahui detail informasi saat pengguna belanja online dengan aplikasi ini. Setiap informasi kartu kredit yang tersimpan memungkinkan Google mengintegrasikannya dengan layanan berbayar lain seperti Drive dan PlayStore.

Sebenarnya masih banyak produk Google lain yang menjadi sumber untuk menambang data penggunanya. Pada tahun 2015, total pendapatan Google mencapai US$74,5 miliar atau setara dengan Rp 979 triliun. Sedangkan pada kuartal dua (Q2) tahun ini, Google telah membukukan pendapatan Rp215 triliun.[]

CNN | TRIBUNNEWS | DETIK | TIRTO

Advertisement img-20160906-wa0001
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Pendiri Situs Bitcoin.com Jual Seluruh BTC

Published

on

By

bitcoin
Ilustrasi Bitcoin | coindesk.com

CHIEF Technology Officer atau CTO sekaligus co-founder bitcoin.com, Emil Oldenberg, salah satu situs bitcoin terbesar di dunia, dikabarkan telah melepas seluruh bitcoin atau BTC miliknya. Kini, Oldenberg beralih ke bitcoin cash atau BCH.

Langkah tersebut diambilnya lantaran menilai investasi di bitcoin terlalu berisiko. “Investasi di bitcoin adalah investasi paling berisiko yang bisa Anda lakukan saat ini,” kata Oldenberg dalam wawancara dengan situs teknologi asal Swedia, Breakit, seperti dilansir businessinsider.com.

Adapun bitcoin cash adalah mata uang digital pecahan bitcoin yang meluncur pada akhir Juli tahun ini. Mengacu pada coinmarketcap.com, bitcoin cash tercatat sebagai mata uang digital dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga saat ini, di bawah bitcoin dan ethereum. Seperti halnya bitcoin, pasokan bitcoin cash juga terbatas yaitu hanya akan mencapai 21 juta.

Setelah pernyataan Oldenberg dipublikasikan, harga bitcoin cash tercatat mengalami lonjakan. Dalam kurun waktu 24 jam hingga sekitar pukul 17.00 WIB, harganya meningkat sekitar 30 persen ke kisaran US$ 2.400-2.500, berbanding terbalik dengan bitcoin yang justru turun 0,11 persen. Adapun jika dihitung dari sejak diluncurkan, kenaikan bitcoin cash mencapai lebih dari 300 persen.

Menurut Oldenberg yang juga co-founder bursa bitcoin di Swedia, Safello, persoalan bitcoin adalah biaya transaksi yang mahal, lantaran berlipat ganda setiap tiga bulan. Selain itu, proses mengonfirmasi transaksi bitcoin berlangsung lama yaitu rata-rata sekitar 4,5 jam saat ini. Penyebabnya, adanya keterbatasan dalam jaringannya. Hal ini membuat bitcoin tidak likuid.

Ia menilai pemegang bitcoin belum menyadari risiko tersebut lantaran baru sebatas membeli bitcoin tapi belum menjualnya. “Segera setelah orang-orang menyadari cara kerjanya, mereka akan mulai menjual,” ucapnya.

Atas dasar itu, ia percaya, investasi di bitcoin cash memiliki masa depan yang lebih cerah dibandingkan dengan investasi di bitcoin. Menurut dia, bitcoin.com juga sudah secara aktif mempromosikan bitcoin cash dan telah menyetop layanan terkait bitcoin. Sebelumnya, situs yang didirikan pada 2015 tersebut, menyediakan beragam layanan terkait bitcoin, termasuk bitcoin casino, layanan berita, hingga pertambangan bitcoin atau bitcoin “mining pool”.[] KATADATA

Continue Reading

Ekonomi

Aceh Jaya Gelar Musrenbang

Published

on

By

Ilustrasi

PEMERINTAH Kabupaten Aceh Jaya melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Kabupaten Aceh Jaya tahun 2017-2022, di Aula Setdakab, Rabu, 13 Desember 2017.

Kepala Bidang Penelitian Pengembangan dan Program Pembangunan Bappeda Aceh Jaya, Rahmad Oriza menuturkan, Musrenbang tersebut untuk media konsultasi publik sebagai dasar penyusunan RPJKM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Kabupaten Aceh Jaya tahun 2017 – 2022, sesuai dengan visi misi bupati-wakil bupati.

Bupati Aceh Jaya Irfan TB mengatakan visi dari Musrenbang tersebut untuk mewujudkan gerakan pembangunan rakyat Aceh Jaya. “Sesuai dengan yang tertuang dalam dokumen rancangan tahun 2017 – 2022. Visinya, terwujudnya gerakan pembangunan rakyat Aceh Jaya sehat, ekonomi, kejayaan agama, tangguh infrastruktur dan informatif, serta potensi sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif. Disingkat dengan sebutan Gerbang Raja Sejati,” terang Irfan.

Ia mengintruksikan para Kepala SKPK untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan serius dan aktif. Serta mengharapkan seluruh peserta yang hadir dapat memberikan masukan yang positif untuk penyusunan RPJMK Aceh Jaya.[] KBA.ONE

Continue Reading

Ekonomi

Kisah Labi-labi yang Digeser Trans Kutaraja

Published

on

By

Labi-labi di Banda Aceh | KBA.ONE/Syukran Jazila

DI tengah rintik hujan Jumat pagi, 13 Oktober 2017, Efendi dengan lahap menikmati sepiring mie Aceh di bak belakang labi-labinya. Labi-labi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kura-kura kecil yang hidup dalam air tawar. Tapi labi-labi yang ini jenis angkutan dalam kota yang dimodifikasi dari mobil bak terbuka.

Sepiring mie itu tandas dalam beberapa menit saja. Namun, belum ada penumpang yang naik. Di dekat labi-labi Efendi, ada beberapa angkutan serupa yang juga ikut mangkal. Mereka berjejer menunggu penumpang di Jalan Perdagangan, Banda Aceh, di sebelah kiri Masjid Raya Baiturrahman.

Sepinya penumpang dirasakan Efendi dan para supir labi-labi lainnya sejak beberapa tahun belakangan. Kondisi ini berbeda pada 2005 ketika Efendi memulai pekerjaannya itu. Saat itu, Kota Banda Aceh masih remuk redam setelah tsunami. Banyak orang dari luar Aceh terutama pekerja kemanusiaan lalu lalang di kota. Penumpang labi-labi pun melimpah, terutama ke Darussalam yang menjadi rute Efendi. “Alhamdulillah saat itu sehari dapat rezeki Rp100 ribu sampai Rp200 ribu,” ujar Efendi.

Setelah proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh selesai, penumpang labi-labi sedikit demi sedikit berkurang. Lalu sekarang, “sehari Rp100 ribu nggak dapat,” ujar Efendi. Ia pun ditinggalkan kernet yang telah beberapa tahun menemaninya. “Karena pendapatan berkurang, makanya dia nggak sanggup kerja lagi.”

Sekarang Efendi bekerja sendiri tanpa kernet. Jumlah penumpang pun kian berkurang. Seharian, kadang ia hanya mengangkut tiga atau empat penumpang saja.

Efendi menilai sepinya penumpang labi-labi karena masyarakat sekarang mulai suka menggunakan angkutan online. “Apalagi masuk (bus) Trans Kutaraja, banyak mahasiswa dan umum lebih memilih naik angkutan itu, karena tidak bayar,” keluhnya.

Trans Kutaraja sejenis angkutan massal yang diluncurkan pemerintah pertengahan tahun ini. Sejak dioperasikan pada 29 Mei lalu, angkutan ini digratiskan bagi seluruh penumpang. Seperti dilansir dari situs Dinas Perhubungan Aceh, hingga Mei trayek yang telah beroperasi adalah Darussalam-Pusat Kota. Di jalur ini, ada 11 bus Trans Kutaraja yang mengangkut penumpang. Jalur tersebut sama seperti rute labi-labi yang dikemudikan Efendi.

Sepinya penumpang memaksa Efendi mencari strategi lain. Ia tidak pernah masuk terminal khusus labi-labi di kawasan Keudah. Dia memilih untuk menunggu di tempat-tempat lain, yang tak terjangkau dengan Trans Kutaraja. “Di Keudah saja tidak mangkal lagi, kadang mutar-mutar. Di sini dekat masjid raya kalau mangkal,” ujarnya. Adapun terminal labi-labi tersebut jika malam sekarang digunakan sebagai lapak para pedagang sepatu.

Labi-labi yang dikemudikan Efendi bukan miliknya melainkan kepunyaan seorang toke. Karena itu, saban hari ia mesti menyetor setidaknya Rp80 ribu untuk si toke. “Itu pun kalau ada segitu. Dulu toke punya mobil 20 unit, semua ngangkut. Sekarang 10 mobil terpaksa mangkal di rumah, bahkan ada yang dibuat jadi mobil (untuk) kios jualan,” ungkapnya.

Tarif labi-labi Efendi Rp4 ribu untuk mahasiswa dan Rp5 ribu bagi penumpang umum. Tarif ini naik seribu dibandingkan beberapa tahun lalu. “Kalau Trans (Kutaraja) bahkan nggak bayar,” ujar Efendi.

Selain Trans Kutaraja, Efendi juga melihat angkutan online turut bertanggungjawab dalam menggerus penumpang labi-labi. “Sempat ribut kemarin di Lampineung, karena kami ambil penumpang di sana tiba-tiba ada angkutan online (taksi). Permainan harga mereka lebih murah ketimbang kami. Kalau (tarif) kami Rp3 ribu Lampineung ke Rumah Sakit Jiwa (Aceh), mereka bisa pasang harga Rp2 ribu,” ujarnya.

Kurangnya penumpang juga dirasakan Syarifuddin, supir labi-labi lainnya. Dulu pendapatannya Rp200 ribu sehari. “Sekarang Rp100 ribu saja sekarat kita cari,” keluhnya.

Syarifuddin merasakan berkurangnya penumpang sejak dua tahun belakangan. Hal itu diperparah dengan kehadiran angkutan online dan Trans Kutaraja. “Sebelum ada mereka sanggup kita bawa pulang belanja ke rumah, sekarang harus ke sana sini cari penumpang yang banyak.”

Di tengah kondisi itu, Syarifuddin juga harus terus memikirkan kondisi labi-labinya. “Ini mobil (Suzuki) Carry tipe lama, kalau rusak ya sudah nggak ngangkut lagi.”

Syarifuddin berharap Pemerintah Aceh jangan hanya memikirkan program yang baru apalagi terkait usaha angkutan umum online. “Seharusnya mereka pikir juga kayak kami ini, labi-labi. Ini trans, taksi online, gojek-gojek itu di mana-mana ada mereka,” ujar Syarifudin dengan nada tinggi; menyiratkan dia tak rela jika angkutan yang pernah mengisi hari-hari masyarakat Banda Aceh ini “mati”.[] KBA.ONE

Continue Reading

Copyright © 2015