ANDA pernah mendengar Bau Nyale? Juga pernah membaca kisah Puteri Mandalika yang jelita dan cinta damai? Itulah salah satu kekuatan legenda di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Nyale adalah sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan Bau Nyale. Kata Bau berasal dari Bahasa Sasak yang berarti menangkap sedangkan kata Nyale berarti cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang.

Bau Nyale sendiri sebuah acara perburuan cacing laut. Acara ini diselenggarakan sekitar Februari dan Maret. Biasanya digelar di Pantai Seger, Kuta, selatan Pulau Lombok.

Bagi orang Sasak, suku asli Lombok, Bau Nyale berkaitan erat dengan kisah Putri Mandalika: Putri jelita yang zaman dahulu menjadi rebutan pangeran-pangeran dari berbagai kerajaan di Lombok. Karena gusar diperebutkan Mandalika mengundang seluruh pangeran bertemu di Pantai Lombok. Setelah mengatakan menerima seluruh pangeran, Mandalika meloncat ke laut. Seluruh rakyat yang mencarinya tidak menemukannya. Beberapa saat kemudian muncul sekumpulan cacing berwarna-warni dari bawah laut. Cerita yang berkembang dalam suku Sasak, cacing nyale warna-warni yang muncul sekali setahun di pantai itu jelmaan Mandalika.

“Kami punya acara Festival Bau Nyale 2016 yang memberi dampak positif bagi kedatangan wisatawan mancanegara dan lokal ke Lombok,” kata Esthy Reko Astuty, Deputi Bidang Pengembangan Pasar Pariwisata Nusantara, Selasa, 1 Maret 2016.

Saat Festival Bau Nyale digelar akhir pekan silam, pantai di wilayah selatan di Lombok Tengah dipadati puluhan ribu manusia. Warga tumpah ruah mengikuti ritual itu, dari Pantai Seger Desa Kuta, hingga Selong Belanak. Pantai Awang, Gerupuk, Selong Belanak, Mawun, Mawi, Tampah dan beberapa titik lainnya, juga penuh oleh lautan manusia.

Dampak dari festival itu, kata Ethy, angka kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara melonjak tajam. Tingkat hunian hotel juga ikut terkatrol naik. Gaungnya, makin terdengar ke luar negeri.

“Saya sempat melakukan survei kecil-kecilan di sekitar Pantai Kuta, Mandalika, Lombok. Tidak ada satu pun hotel maupun home stay yang kosong. Hotel melati sampai hotel berbintang seperti Novotel sudah full booked sejak sepekan sebelum acara,”  ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal, mengatakan lautan manusia memang tumpah ruah di garis pantai yang membentang hingga 76 kilometer itu. Baginya, Festival Bau Nyale adalah upaya pemerintah menanamkan nilai-nilai pengorbanan layaknya Putri Mandalika. “Ritual bau nyale merupakan satu-satunya ritual terunik sepanjang sejarah. Ritualnya menyedot pengunjung yang banyak. Dan ini sudah diakui dunia,” ujarnya.

Dari paparan Faozal, ada peningkatan kunjungan wisatawan sekitar 20 persen bila dibanding 2015. Dan 70 persen tamu yang menginap di sekitar Pantai Kuta, tak lagi didominasi turis lokal. Sekarang, dominasinya dikuasai turis asal Singapura, Hong Kong, Eropa dan Amerika Serikat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.