SOSIAL Media atau sosmed kini jadi “senjata” bagi Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan keelokan Nusantara.

“Jika bicara strategi media, ada empat channel yang kami pakai, yaitu paid media atau media berbayar, own media (media sendiri), sosial media (sosmed), dan endorser media atau menggunakan media berpengaruh untuk promosi destinasi. Saya menyebut keempatnya dengan akronim POSE,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Senin, 29 Februari 2016.

Dadang Rizki, Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kementerian Pariwisata, menerjemahkan teori Arief Yahya itu dengan membuat kanal Cerita Destinasi di Facebook.

Foto-foto destinasi dan sekelumit cerita objek wisata itu mulai membetot perhatian netizen. Banyak dari mereka membagikan laman tertentu ke kawan-kawan di sosmed. Dadang yakin cara ini sangat membantu pengembangan destinasi wisata.

“Silakan selfie, atau foto-foto di tempat wisata kita, silakan mengambil gambar yang bagus, lalu tampilkan di Cerita Destinasi,” kata Dadang.

“Kami memberi ruang untuk mengirim karya foto dan cerita. Narsis dengan latar belakang tempat wisata, lalu upload di medsos mana pun, akan membuat destinasi meluas,” lanjutnya.

Trend selfie memang tidak bisa dihindarkan. Semua paling suka difoto, lalu di-upload di sosmed dan dikomentari banyak followers atau friends. “Sisipkan objek wisata dan keindahan alam Indonesia! Itu akan membuat destinasi semakin dikenal, dan foto selfie-nya lebih keren,” ujar Dadang.

Orang Indonesia memang paling aktif di sosmed. Akhir 2015 saja, Opera Mediaworks dan Mobile Marketing Association menunjukkan data 38 pengguna smartphone di Indonesia mengakses situs sosmed.

Negara lain yang memiliki jumlah pengakses situs sosial media cukup besar yakni India, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Dua konten yang juga sering diakses pengguna smartphone di Indonesia adalah toko aplikasi untuk perangkat mobile (mobile store), dengan persentase 22 persen dan konten olahraga 12 persen.

Penggunaan feature phone yang masih cukup tinggi menjadi alasan banyaknya akses ke mobile store. Sebab, pengguna feature phone membutuhkan kanal mobile store untuk mengakses konten dan aplikasi.

Selain itu, 88,5 persen unique user di mobile store dan portal operator berasal dari feature phone. Opera juga merilis data tentang perilaku dan minat pengguna perangkat mobile di negara-negara tersebut. Dari data yang dikumpulkan diketahui ada empat segmen konsumen mobile, yakni Savvy Shoppers, High-Tech Enthusiasts, Travelers, dan Gamers.

Di Indonesia, konsumen mobile yang paling besar adalah Savvy Shoppers dan Travelers. Negara lain yang juga memiliki jumlah Savvy Shoppers terbesar adalah India, Malaysia, dan Vietnam.

“Cara Pak Menteri Arief Yahya yang melek sosial media itulah yang membuat keindahan alam kita menghiasi sosmed,” kata Ratna Soebrata, Sekjen Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik.

”Saya terkejut ketika turis tahu Karangasem dan Bali. Bagaimana dia memesan tiket hingga Bali, dia menjawab: lihat internet, pesan di internet, bayar di internet, dan saya datang ke negaramu,” ujar I Nyoman Adi Sudarmaya, dari Bidang Promosi Dinas Pariwisata Karangasem, Bali.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.