KEMENTERIAN Pariwisata menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengoptimalkan aset hutan dan taman nasional menjadi atraksi destinasi wisata untuk Wonderful Indonesia.

“Kami menggunakan prinsip sustainable tourism development yang model dan aturannya ada di UN-WTO,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Senin, 29 Februari 2016.

Standar global itu dirilis UN-WTO di Madrid, ibu kota Spanyol yang menjadi markas lembaga PBB tersebut. Jika diimplementasikan muncul asumsi semakin dilestarikan kian menyejahterakan.

Menurut Arief Yahya aksi kerjasama telah berbentuk rencana kerja di 10 destinasi unggulan di Indonesia.

Azwir Malaon, Asisten Deputi Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata mengatakan pada Selasa, 1 Maret 2016, ia akan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk melaksanakan perbaikan di taman nasional.

Taman-taman nasional yang bakal dioptimalkan meliputi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Rinjani, dan Taman Nasional Gunung Tambora.

“Pak Menpar dan Ibu Menteri KLHK Siti Nurbaya juga telah menandatangani kesepakatan. Eksekusi akan dilakukan eselon satu dan dua. Kami akan menjalankan kesepakatan ini dengan konsisten,” ujar Azwir.

Menurut Azwir, semua itu dilakukan untuk menggalang potensi sumber daya, karena percepatan pengembangan wisata alam harus dikebut untuk mewujudkan target 2019.

Kementerian LHK juga akan mengembangkan pariwisata alam di taman-taman nasional. Tachrir Fathoni, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian LHK,  mengatakan langkah konkret kerjasama ini terkoneksi ke tiga cluster.

Pertama, cluster Lampung dan Jawa, khususnya Jawa Barat dan Jakarta. Kedua, cluster Jawa Timur. Ketiga, cluster Nusa Tenggara Barat. Di dalam tiga cluster itu, tambahnya, harus ada integrasi antara alam, budaya, dan atraksi buatan.

Tachrir juga mengatakan ada empat strategi digunakan untuk penguatan terhadap destinasi wisata alam yang ada.

“Kami buat konsep cluster untuk memperoleh multiplier yang tinggi dengan pelayanan kenyamanan dan kemewahan bagi pengunjung, tapi tetap mengendepankan faktor konservasi. Selain itu, mengembangkan konektivitas berbagai lokasi dalam cluster yang berbatas menjadi satu kesatuan destinasi,” ujar Tachrir.

Strategi kedua, menciptakan destinasi wisata alam yang baru. “Ini bisa menjadi satu kesatuan destinasi dengan kemudahan aksesnya, dengan peningkatan infrastruktur dan aksesibilitasinya,” ujarnya.

Ketiga, mendesain keunggulan komparatif destinasi wisata alam melalui berbagai upaya taktis dan strategis. Keunikan spesifikasi taman nasional dan taman wisata alam dikemas serta didesain sesuai segmen pasar yang ingin dikembangkan dan terintegrasi ke dalam desain kawasan strategis nasional.

“Terakhir, mewujudkan 3P (public, private dan partnership) dalam pengembangan wisata alam,” kata Tachrir.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menambahkan dalam kerja sama itu ada tiga hal yang akan dilakukan, yakni melalui ungkapan, melakukan pengukuran, dan action plan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.