PUSAT Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merupakan salah satu program yang berada dalam satuan kerja pemerintah kabupaten pada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera (BPM,PP dan KS). Landasan terbentuknya P2TP2A adalah Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang nomor 4 tahun 2006 tentang Penyelenggara dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Salah satu upaya untuk mewujudkannya dengan mengembangkan mekanisme perlindungan perempuan dan anak berbasis komunitas. Program ini dapat dikembangkan untuk menekan kekerasan terhadap anak dan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah agar kekerasan dapat dikurangi dengan kesadaran masyarakat itu sendiri.

Kejahatan seksual dan kekerasan fisik pada anak kian meningkat. Apalagi hal itu dilakukan oleh orang dekat korban. Selain itu, KDRT makin kerap terjadi. “Kejahatan seksual dan kekerasan pada anak serta KDRT harus dihindari. Kita akan melakukan sosialisasi tentang hukum kejahatan seksual dan kekerasan pada anak serta KDRT semaksimal mungkin untuk meminimalkan adanya kekerasan,” ujar Sekretaris P2TP2AAceh Barat Daya, Rosita HS. Sosialisasi itu, kata dia, tidak hanya oleh P2TP2A saja tapi tanggung jawab bersama.

Rosita berharap, korban tidak malu melaporkan kasus kekerasan yang dialami. “Ataupun pihak-pihak yang berhubungan langsung, seperti keluarga,” ujar Rosita. Masyarakat maupun korban bisa melapor ke kantor P2TP2A yang berada di Jalan Bukit Hijau Kompleks Perkantoran Gampong Keude Paya, Kecamatan Blangpidie.

Rosita yang juga menjabat Sekretaris BPM, PP dan KS Aceh Barat Daya ini mengatakan, P2TP2A merupakan pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi masyarakat terutama perempuan dan anak korban kekerasan melalui wahana operasional pemberdayaan perempuanuntuk mewujudkan kebersamaan yang dikelola masyarakat yang berkepribadian islami dengan pemerintah melalui pelayanan pelaporan, kesehatan, rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum dan penegakan hukum, pemulangan dan reintegrasi sosial, rujukan, konsultasi dan berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan dan anak. “P2TP2A Aceh Barat Daya memiliki visi Aceh Barat Daya yang ramah anak, perempuan berdaya dan terlindungi sesuai spirit Islam,” ujarnya.

Sementara misi P2TP2A, kata Rosita, menerima pengaduan dari masyarakat tentang kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain itu, mengelola data dan informasi terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, mengoordinasikan dengan lembaga dan instansi terkait untuk memberikan berbagai pelayanan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan.

Misi lainnya adalah membangun komitmen dan gerakan bersama untuk mencegah, menghapus kekerasan, dan perdagangan manusia terhadap perempuan dan anak, serta merespon kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi dalam masyarakat. P2TP2A juga memberikan peningkatan kapasitas terhadap pengurusnya.

“Saya mengimbau kepada perempuan dan anak yang menjadi korban untuk tidak malu dan takut melaporkan kepada yang berwajib. Untuk warga yang melihat tindakan kekerasan pada anak dan kejahatan seksual pada anak maupun KDRT juga tidak segan-segan segera informasikan kepada pihak yang berwajib dan P2TP2A. Khusus tokoh-tokoh agama agar tidak pernah lelah memberikan informasi serta saran kepada para pasangan agar tidak terjadi tindakan kekerasan di lingkungan masyarakat, khusunya di kabupaten Aceh Barat Daya,” papar Rosita.[]Nasruddin OOS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.