Connect with us

Kesehatan

Ini Dia Kegunaan Ganja untuk Kesehatan

Published

on

GANJA bila disalahgunakan bisa merusak kesehatan. Tapi dalam dosis yang tepat, tumbuhan ini bisa menyelamatkan nyawa manusia dari berbagai jenis penyakit. Dikutip dari dw.com, beberapa manfaat ganja yang telah dibuktikan oleh sains seperti mencegah serangan epilepsi.

Pada 2013, peneliti Virginia Commonwealth University menemukan senyawa dalam mariyuana bisa mencegah serangan epilepsi. Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics, itu menyebut senyawa cannabinoids bekerja dengan mengikat sel otak yang bertanggungjawab mengatur rangsangan dan rasa tenang pada manusia.

img-20160906-wa0001

Sejak lebih dari sepuluh tahun silam National Eye Institute atau NEI di Amerika Serikat telah menyarankan penggunaan ganja untuk mengurangi gejala glaukoma. Penyakit ini memicu pembesaran bola mata yang kemudian menekan saraf mata dan menyebabkan gangguan penglihatan. Mengonsumsi ganja dengan menghisapnya, menurut NEI, dapat meringankan tekanan pada saraf mata.

Sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Alzheimer’s Disease mengungkapkan, dosis kecil tetrahydrocannabinol, senyawa di dalam tumbuhan mariyuana, dapat memperlambat pembentukan plak amiloid yang membunuh sel otak dan bertanggungjawab atas penyakit alzheimer. Selama eksperimen peneliti menggunakan minyak cannabis.

Pada 2015, Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengakui khasiat mariyuana memerangi penyakit kanker. Sebelumnya sebuah studi yang dipublikasikan di situs pemerintah cancer.org mengungkap senyawa cannabinoids mampu membunuh sel kanker dan memblokir sejumlah pembuluh darah yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh. Cannabinoids antara lain efektif mengobati penyakit kanker usus, kanker payudara dan kanker hati.

Namun, di Amerika, walapun lebih dari dua lusin negara bagian di Amerika melegalkan beberapa bentuk ganja untuk penggunaan medis atau rileksasi, obat tersebut tetap ilegal di tingkat federal.

Berbagai studi juga mengungkapkan ganja sangat efektif meredakan dampak samping kemoterapi, yakni rasa mual, muntah dan hilang nafsu makan. Badan Pengawas Obat Amerika Serikat, FDA, sejak beberapa tahun telah mengizinkan terapi obat-obatan berbasis cannabinoid untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Ganja juga dapat meredakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh manusia membunuh sel-sel sehat ketimbang memerangi penyakit. Hasilnya organ tubuh sering diserang radang. Pada 2014 peneliti dari University of South Carolina menemukan senyawa THC di dalam ganja mampu mengubah molekul dalam DNA yang bertanggungjawab mempercepat proses peradangan. Sejak saat itu cannabis digunakan untuk merawat pasien autoimun.

Sementara itu, peneliti dari University of Nottingham berhasil membuktikan ganja mampu melindungi otak dari kerusakan yang disebabkan serangan stroke. Studi tersebut menyebut ganja membatasi area di dalam otak yang terkena dampak stroke. Kendati belum diuji klinis, temuan tersebut memperkuat teori lain bahwa mariyuana juga mampu meminimalisir kerusakan akibat trauma atau geger otak.

Fungsi lainnya, ganja menghambat sklerosis ganda; gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang merusak lapisan lemak pelindung saraf manusia. Akibatnya saraf mengeras dan menyebabkan kejang-kejang yang memicu rasa sakit luar biasa. Sebuah studi yang dipublikasikan di Canadian Medical Association Journal tahun lalu menyebut Cannabis dapat meringankan gejala kejang pada pasien sklerosis ganda.

Sebagian penderita diabetes mengalami kerusakan saraf di bagian kaki dan tangan. Gejalanya adalah rasa terbakar di bagian tubuh tersebut. Belum lama ini peneliti University of California menemukan cannabis efektif meringankan rasa sakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Namun hingga kini Badan Pengawasan Obat AS, FDA, belum memberikan lampu hijau buat terapi ganja untuk pasien diabetes.

Serupa obat kanker, terapi obat buat meredam hepatitis C memicu efek samping seperti lelah, mual, otot pegal, kehilangan nafsu makan dan depresi. Namun studi yang diterbitkan di European Journal of Gastroenterology and Hepatology, mengungkap lebih dari 86 persen pasien mampu menuntaskan terapi hepatitis C dengan mengonsumsi ganja. Cannabis diyakini mampu meredam efek samping terapi hepatitis C.

Hingga kini, beberapa negara lain yang melegalkan ganja untuk pengobatan adalah Italia dan Jerman. Di Jerman, penggunaan ganja diizinkan berdasarkan resep dokter. Penggunaannya untuk ringankan simptoma beragam penyakit berat dan kronis. Syaratnya pasien harus ikut studi ilmiah untuk meneliti lebih lanjut efek medis dari mariyuana.

Sementara di Italia, dengan dilegalkannya ganja untuk pengobatan, militer Italia menjadi satu-satunya produsen ganja di negara Uni Eropa ini. Selain menjaga keamanan negara, militer Italia juga mengemban tugas sebagai petani ganja. Lewat proyek mariyuana untuk pengobatan yang mulai digelar pada 2007, pemerintah Italia menunjuk militernya pada September 2014 untuk mengelola ladang ganja di Florence.

Tidak diberitakan berapa volume ganja yang dipetik dalam panen perdana pada Juni 2016. Namun Italia berharap, dari ladang di Florence ini bisa diproduksi 80 sampai 100 kilogram ganja setiap tahunnya. Dan dengan produksi dalam negeri, diharapkan harga ganja dapat ditekan sampai di bawah 15 Euro per gram. Karena jika suplai ganja masih tergantung pada Belanda, harga jual ganja impor itu 35 Euro atau sekitar Rp500 ribu per gram.

Italia memang memperbolehkan penggunaan ganja untuk pengobatan dengan resep dokter. Hasil ladang ganja di dalam negeri Italia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mariyuana untuk pengobatan bagi sekitar 2.000 pasien. Meski manfaat ganja dalam dunia medis masih diperdebatkan, namun sebagian besar peneliti menganggap tumbuhan ini jika dikonsumsi dalam dosis tepat bisa dijadikan obat ampuh bagi beberapa jenis penyakit.[]

KBA.ONE

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Bayi ini Lahir dengan Kondisi Jantung di Luar Tubuh

Published

on

By

Kondisi Vanellope setelah dioperasi | ITV.com

PARA dokter di Inggris berhasil melakukan operasi memasukkan jantung seorang bayi ke dalam dadanya. Bayi bernama Vanellope Hope Wilkins tersebut, lahir tiga pekan lalu melalui operasi caesar. Namun, kondisi Vanellope berbeda dengan bayi kebanyakan. Bayi malang ini tidak memiliki tulang dada. Sedangkan jantungnya berada di luar tubuh, di bagian dadanya.

Vanellope kemudian dioperasi di rumah sakit Glenfield di Leicester. Terhitung, ada tiga kali operasi yang dijalani Vanellope agar jantungnya bisa masuk kembali ke dalam tubuh.

img-20160906-wa0001

Dokter menyebut kondisi yang dialami Vanellope sebagai ectopia cordis. Ini hal yang sangat langka, hanya terjadi beberapa kasus per sejuta kelahiran. Sebagian besar bayi yang lahir dalam kondisi itu sudah meninggal. Rumah sakit mengatakan, di Inggris sejauh ini tidak ada bayi yang lahir dalam kondisi itu yang selamat.

Orang tuanya, Naomi Findlay, 31 tahun, dan Dean Wilkins, 43 tahun, mengatakan Vanellope “seorang petarung sejati”. “Ketika peneriksaan ultrasound (saat masih hamil) menunjukkan bahwa jantung dia berada di luar dadanya, itu sungguh mengguncangkan dan menakutkan, karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujar Naomi.

Dean menambahkan: “Kami disarankan untuk melakukan penghentian kehamilan (menggugurkan bayi itu, karena) kemungkinan bertahan hidup nyaris tidak ada sama sekali.”

Lalu mereka melakukan tes darah, yang hasilnya menunjukkan tidak ada kelainan kromosom pada bayi itu. Lalu mereka memutuskan melanjutkan kehamilan. “Tidak ada yang percaya bahwa dia akan bisa hidup kecuali kami,” lanjut Dean.

Naomi mengatakan ia tak bisa membayangkan untuk menggugurkan bayinya. “Sesudah melihat detak jantungnya, bahkan pada usia sembilan minggu (sebagai janin) – tidak peduli di mana jantung itu berada -(pengguguran) bukan tindakan yang akan saya ambil. Ibaratnya, kekuatan janin itu justru memberi saya kekuatan untuk terus bertahan,” ujarnya.

Vanellope diperkirakan lahir pada malam Natal mendatang. Namun, ia kemudian dilahirkan melalui operasi caesar pada 22 November untuk mengurangi kemungkinan infeksi dan kerusakan pada jantungnya.

Sekitar 50 staf medis hadir saat kelahiran, termasuk dokter kandungan, ahli bedah jantung, ahli anestesi, neonatologi dan bidan. Dalam 50 menit sesudah kelahiran, bayi tersebut langsung menjalani operasi pertama. Saat operasi terakhir, kulit Vanellope diambil sebagian untuk menutupi lubang di dadanya.

Frances Bu’Lock,seorang ahli jantung anak-anak, mengatakan: “Sebelum lahir, segalanya terlihat sangat kelam, tapi sekarang jauh lebih baik – Vanellope melewati semuanya dengan sangat baik dan terbukti sangat tangguh.”

“Ke depan kami mungkin bisa memasukkan sejumlah tulang perlindungan buatan untuk jantungnya – mungkin menggunakan pencetakan 3D atau sesuatu yang organik yang bisa tumbuh bersamanya.”

Vanelope tercatat sebagai bayi pertama penderita kondisi itu di Inggris yang selamat. Namun di Amerika Serikat, sudah ada beberapa anak yang juga selamat dan bertahan hidup. Di antaranya, Audrina Cardenas yang lahir di Texas pada Oktober 2012.

Audrina juga menjalani operasi mengembalikan jantung yang berada di luar, ke dalam dadanya. Ia bisa pulang ke rumah setelah tiga bulan menjalani prosedur-prosedur rumit itu. Audrina dipasangi pelindung plastik untuk menutupi dadanya.

Sementara terkait Vanellope, Rumah Sakit Glenfield mengatakan bahwa “jalan masih panjang” – dan risiko terbesarnya adalah infeksi. Tahap selanjutnya adalah mengeluarkan Vanellope dari ventilator, yang digunakan untuk membantu pemulihan sesudah operasi.

Dean Wilkins, sang ayah, mengatakan: “Dia menjungkir-balikkan segala (perkiraan) – Sungguh ajaib.” Pasangan tersebut memberi nama Vanellope, dari nama seorang tokoh dalam film Disney “Wreck-It Ralph”.

Naomi berkata: “Vanellope dalam film ini adalah petarung sejati yang akhirnya berubah menjadi seorang putri. Jadi kami pikir cocok.”[] BBC

Continue Reading

Kesehatan

MPU Aceh: Vaksin Mengandung Enzim Babi Diperbolehkan

Published

on

By

ilustrasi

WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama atau MPU Aceh, Faisal Ali, mengimbau masyarakat tidak perlu takut memberikan imunisasi kepada bayi. Dari kajian MPU, tidak ditemukan adanya vaksin mengandung enzim babi selain pada polio tetes. “Sepengetahuan kami, (vaksin) yang lain belum ada ditemukan yang menandung enzim babi. Cuma polio tetes saja yang terkontaminasi, karena prosesnya harus menggunakan bahan itu. Sedangkan yang suntik tidak ada,” ujar Faisal yang akrab disapa Lem Faisal kepada KBA.ONE, Selasa, 12 Desember 2017.

Menurut Lem Faisal, untuk mengindari penyakit difteri yang kini mewabah di Aceh, masyarakat diminta segera memberikan imunisasi bagi buah hati mereka. “Kalau tidak ada bukti, tidak perlu dengar info yang tidak jelas. Silakan memberikan imunisasi kepada anak untuk mencegah dan menghindari penyakit yang berbahaya. Imunisasi difteri tidak mengandung enzim babi,” ujarya.

img-20160906-wa0001

Sementara itu mengenai vaksin polio yang mengandung enzim babi, Lem Faisal mengatakan hal itu juga dapat diberikan jika dalam konteks darurat. “Vaksin polio ada dua, yang tetes dan suntik. Yang mengandung enzim babi itu yang tetes, kalau yang suntik tidak. Jadi masyarakat gunakan yang suntik saja. Jika pun harus menggunakan yang tetes, kalau sifatnya hajat dan darurat, maka diperbolehkan, itu tidak haram,” jelasnya.

Soal darurat ini juga pernah ditegaskan MPU Aceh dalam fatwanya pada 22 April 2015. Di dalam fatwa bernomor 3 tahun 2015 tentang vaksin polio tetes, MPU menyebutkan vaksin polio tetes bagi balita adalah virus yang diambil dari penderita polio, dikembangkan dengan media ginjal janin kera berekor panjang yang berumur 120 hari, lalu dipisahkan dengan menggunakan tripsin (enzim babi). “Vaksin polio tetes adalah mutanajjis. Penggunaan vaksin polio tetes dalam kondisi darurat adalah dibolehkan,” sebut MPU.

Namun, di dalam fatwa itu, MPU mengharapkan pemerintah mengupayakan vaksin polio tetes yang suci. Harapan serupa juga disampaikan kepada para pakar medis yang memproduksi vaksin polio tetes.

Sebelumnya diberitakan, penyakit difteri telah mewabah di Aceh. Sejak Januari hingga Desember 2017, tercatat empat orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan ini. Penderita berasal dari Aceh Timur, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Bireuen. “Penyakit ini mulai mewabah di Aceh mulai Januari 2017 lalu, dimulai di Aceh Timur. Hingga Desember ini, terdapat 93 kasus difteri terjadi di Aceh,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah, ketika dihubungi KBA.ONE, Selasa, 12 Desember 2017.

Difteri di Aceh, sambung Abdul Fatah, sudah mewabah di 12 kabupaten kota di Aceh. Kasus terbanyak di Aceh Timur dengan 18 kasus, disusul Pidie Jaya 16 kasus, Banda Aceh 14 kasus, Aceh Utara 11 kasus, Bireuen 11 kasus, Pidie 7 kasus, Aceh Besar 6 kasus, Lhokseumawe 2 kasus, Sabang 2 kasus, Aceh Selatan 1 kasus, dan Aceh Tamiang 1 kasus. “Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Usia terbanyak di atas 14 tahun, yaitu 58 persen. Selanjutnya usia 10-14 tahun berjumlah 19 persen, usia 5-9 tahun 16 persen, serta usia 1-4 tahun sekitar 7 persen,” ujar Abdul Fatah.

Continue Reading

Kesehatan

Indonesia KLB Difteri

Published

on

By

Ilustrasi

INDONESIA tengah menghadapi Kejadian Luar Biasa atau KLB Difteri di beberapa daerah. Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan respons cepat KLB dengan langkah outbreak response immunization atau ORI pada 12 kabupaten kota di tiga provinsi yang mengalami KLB yakni Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

“Adanya satu kasus difteri terkonfirmasi laboratorium secara klinis sudah dapat menjadi dasar bahwa suatu daerah dinyatakan berada dalam kondisi KLB, karena tingkat kematiannya tinggi dan dapat menular dengan cepat,” ujar Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek saat meninjau pelaksanaan ORI di SMA Negeri 33 Jakarta, Senin pagi, 11 Desember 2017, seperti dikutip dari situs Kementerian Kesehatan.

img-20160906-wa0001

Menurut Nila, KLB difteri terjadi karena adanya kesenjangan imunitas atau immunity gap di kalangan penduduk suatu daerah. “Keadaan ini terjadi karena ada kelompok yang tidak mendapatkan imunisasi atau status imunisasinya tidak lengkap sehingga tidak terbentuk kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri difteri,” ujarnya.

Sejak 1 Januari hingga 4 November 2017 telah ditemukan 591 kasus difteri dengan 32 kematian di 95 kabupaten kota di 20 provinsi di Indonesia. “Meski sangat mudah menular, berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, difteri dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Nila.

Difteri disebabkan bakteri Corynebacterium diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit. “Gejala demam yang tidak terlalu tinggi namun yang terjadi adalah adanya selaput yang menutup saluran napas. Selain itu bakteri tersebut juga mengakibatkan gangguan jantung dan sistem syaraf,” ujar Nila.

Imunisasi difteri, kata Nila, upaya preventif yang spesifik terhadap penyakit. “Imunisasi dimulai sejak anak usia 2, 3, dan 4 bulan. Lalu untuk meningkatkan antibodinya lagi, harus diulang di usia 2 tahun, 5 tahun dan usia sekolah dasar’,” ujarnya.

Imunisasi untuk mencegah difteri sudah termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap, meliputi tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis-B dan Haemofilus influensa tipe b) pada usia 2, 3 dan 4 bulan; satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan; satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri Tetanus) bagi anak kelas satu sekolah dasar; satu dosis imunisasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas dua sekolah dasar; dan satu dosis imunisasi lanjutan Td bagi anak kelas lima.

Pemerintah, kata Nila, menjamin baik keamanan maupun ketersediaannya. Masyarakat bisa memanfaatkannya tanpa biaya.

Di Aceh, kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah, sejak Januari hingga Desember 2017, tercatat empat orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. “Penyakit ini mulai mewabah di Aceh mulai Januari 2017 lalu, dimulai di Aceh Timur. Hingga Desember ini, terdapat 93 kasus difteri terjadi di Aceh,” ujar Fatah, Selasa, 12 Desember.

Difteri di Aceh, sambung Abdul Fatah, sudah mewabah di 12 kabupaten kota di Aceh. Kasus terbanyak di Aceh Timur dengan 18 kasus, disusul Pidie Jaya 16 kasus, Banda Aceh 14 kasus, Aceh Utara 11 kasus, Bireuen 11 kasus, Pidie 7 kasus, Aceh Besar 6 kasus, Lhokseumawe 2 kasus, Sabang 2 kasus, Aceh Selatan 1 kasus, dan Aceh Tamiang 1 kasus. “Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Usia terbanyak di atas 14 tahun, yaitu 58 persen. Selanjutnya usia 10-14 tahun berjumlah 19 persen, usia 5-9 tahun 16 persen, serta usia 1-4 tahun sekitar 7 persen,” ujar Abdul Fatah.

Gejala Difteri

Walaupun gejala yang paling mudah terlihat adalah pada mulut dan tenggorokan, difteri juga dapat dikenali dari beberapa tanda lain seperti pembengkakan pada kelenjar leher, hidung berlendir, demam dan menggigil, batuk, perasaan tidak nyaman, gangguan penglihatan, bicara yang melantur, serta kulit pucat, berkeringat dan jantung berdebar. “Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak Anda mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur < 15 tahun,” imbau Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI di website resminya.

IDAI juga menyebutkan, pemutusan rantai penularan difteri dilakukan dengan pemeriksaan seluruh anggota keluarga oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan. “Serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit. Apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan,” tulis IDAI.

Untuk anggota keluarga yang tidak menderita difteri, segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. “Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri di tempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 kali sesuai umur. Sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.”

Continue Reading

Copyright © 2015