PUKUL 06.45 waktu setempat, 18 April 2014, bongkahan es raksasa meluncur dari gletser gantung di bahu barat Gunung Everest dan menggemuruh turun 300 meter ke Khumbu Icefall atas.

Enam belas orang gunung tewas, 13 di antaranya sherpa dan tiga dari suku Nepal lain dan mencederai delapan orang. Ini kecelakaan terparah dalam seratus tahun sejarah pendakian puncak ini.

Sebelum kecelakaan itu, para pemandu gunung tersebut sedang menyiapkan pendakian. Lokasinya tak jauh dari kemah induk pendakian, terkenal sebagai daerah yang rawan longsor. Hingga terakhir, masih ada tiga pemandu yang belum ditemukan jasadnya.

Orang Sherpa dipercaya berasal dari migrasi penduduk timur Tibet, lima abad lalu. Mereka merupakan suku di pegunungan Himalaya, kebanyakan penganut Buddha.

Orang Sherpa tinggal selama bergenerasi di desa-desa yang berada di ketinggian 2.000 hingga 5.000 meter, dan secara fisik telah beradaptasi dengan ketinggian, seperti tipisnya oksigen dan rendahnya kelembaban udara.

Hingga sekarang, populasi orang Sherpa diperkirakan mencapai 112.000 orang, berdasarkan sensus populasi dan rumah Nepal pada 2011.

Kata “Sherpa” kini diidentikkan sebagai orang Nepal yang membantu atau memandu pendakian gunung di Himalaya. Padahal, tak semua pemandu gunung berasal dari suku Sherpa yang banyak berdiam di Solukhumbu.

Berdasarkan data Asosiasi Pendaki Gunung Nepal (NMA), sekitar 9.000 orang Sherpa terdaftar sebagai pemandu dan pembantu pembawa barang untuk pendakian gunung.

Klik Mini Gallery untuk melihat foto-foto —–>

Perkiraan gaji yang diberikan sekitar US$ 5.000-7.000 per semusim pendakian. Gaji tersebut diklaim lebih tinggi beberapa kali lipat daripada pendapatan penduduk Nepal pada umumnya.

Sherpa pendaki merupakan setengah pemandu, setengah kuli, setengah asisten pribadi, setengah pembimbing, dan setengah pelindung. Tugas mereka kadang termasuk mengangkut peralatan atau menyajikan sarapan di tempat tidur.

Namun, pekerjaan Sherpa sebenarnya berisiko tinggi karena harus menyiapkan peralatan dan jalur pendakian sebelum pendaki memulai perjalanan.

Kesuksesan sherpa Tenzing Norgay sebagai orang pertama—bersama Edmund Hillary— yang sukses mencapai Puncak Everest (8.850 meter) pada 29 Mei 1953 semakin mengukuhkan posisi sherpa dalam setiap pendakian. (NGC, Abcnews, kompas, sinarharapan, merdeka – credit foto: nbc, abcnews, discovery, theplanetd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.