Connect with us

Ekonomi

Dosen dan Mahasiswa STAIN Meulaboh Dapat Diskon Tiket Garuda

Published

on

SEKOLAH Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Direundeng Meulaboh menjalin kerjasama dengan perusahaan penerbangan Garuda Indonesia wilayah Aceh. Penandatangan naskah kerjasama tersebut berlangsung di aula kampus, Rabu 26 November 2014.

Ketua STAIN Teungku Direundeng Meulaboh, Syamsuar, sangat antusias menyambut keinginan manajemen Garuda Indonesia wilayah Aceh untuk menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi di kawasan Barat Selatan Aceh.

“Tentunya ini merupakan satu langkah maju bagi STAIN Teungku Dirundeng sebagai perguruan tinggi negeri baru untuk melakukan pengembangan ke depan,” kata Syamsuar.

Naskah kerjasama tersebut ditandatangani langsung oleh Syamsuar bersama General Manager Garuda Indonesia Aceh Nano Setiawan di hadapan lima puluhan dosen dan mahasiswa. Penekenan naskah disaksikan Kabag Umum dan Perlengkapan STAIN Teungku Dirundeng dan Manager Marketing Garuda Indonesia Aceh Budi Handoyo.

Nano Setiawan mengatakan kerjasama itu merupakan bagian dari program Garuda Indonesia untuk membantu pendidikan di Aceh.

“Dengan adanya kerjasama ini, ke depan seluruh keluarga besar STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan beserta anggota keluarga akan mendapatkan diskon tiket 10 sampai 25 persen dari Garuda Indonesia Aceh,” ungkap Nano Setiawan.

Untuk tahap awal kerjasama tersebut berlaku selama setahun dan akan diperpanjang kembali pada tahun berikutnya sebagaimana kesepakatan kedua belah pihak.

Nano menambahkan, Garuda Indonesia juga sedang mengupayakan untuk membuka rute penerbangan Nagan Raya-Medan melalui Bandar Udara Cut Nyak Dhien. “Kita upayakan rute penerbangan Nagan Raya-Medan dapat terlaksana pada 15 Januari 2015.”

Selain itu, rencananya juga akan dibuka Kantor Cabang Garuda Indonesia di Meulaboh. “Lokasi awal yang kita targetkan di Jalan Teuku Umar,” pungkasnya.[]

Advertisement img-20160906-wa0001
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ekonomi

Pendiri Situs Bitcoin.com Jual Seluruh BTC

Published

on

By

bitcoin
Ilustrasi Bitcoin | coindesk.com

CHIEF Technology Officer atau CTO sekaligus co-founder bitcoin.com, Emil Oldenberg, salah satu situs bitcoin terbesar di dunia, dikabarkan telah melepas seluruh bitcoin atau BTC miliknya. Kini, Oldenberg beralih ke bitcoin cash atau BCH.

Langkah tersebut diambilnya lantaran menilai investasi di bitcoin terlalu berisiko. “Investasi di bitcoin adalah investasi paling berisiko yang bisa Anda lakukan saat ini,” kata Oldenberg dalam wawancara dengan situs teknologi asal Swedia, Breakit, seperti dilansir businessinsider.com.

Adapun bitcoin cash adalah mata uang digital pecahan bitcoin yang meluncur pada akhir Juli tahun ini. Mengacu pada coinmarketcap.com, bitcoin cash tercatat sebagai mata uang digital dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga saat ini, di bawah bitcoin dan ethereum. Seperti halnya bitcoin, pasokan bitcoin cash juga terbatas yaitu hanya akan mencapai 21 juta.

Setelah pernyataan Oldenberg dipublikasikan, harga bitcoin cash tercatat mengalami lonjakan. Dalam kurun waktu 24 jam hingga sekitar pukul 17.00 WIB, harganya meningkat sekitar 30 persen ke kisaran US$ 2.400-2.500, berbanding terbalik dengan bitcoin yang justru turun 0,11 persen. Adapun jika dihitung dari sejak diluncurkan, kenaikan bitcoin cash mencapai lebih dari 300 persen.

Menurut Oldenberg yang juga co-founder bursa bitcoin di Swedia, Safello, persoalan bitcoin adalah biaya transaksi yang mahal, lantaran berlipat ganda setiap tiga bulan. Selain itu, proses mengonfirmasi transaksi bitcoin berlangsung lama yaitu rata-rata sekitar 4,5 jam saat ini. Penyebabnya, adanya keterbatasan dalam jaringannya. Hal ini membuat bitcoin tidak likuid.

Ia menilai pemegang bitcoin belum menyadari risiko tersebut lantaran baru sebatas membeli bitcoin tapi belum menjualnya. “Segera setelah orang-orang menyadari cara kerjanya, mereka akan mulai menjual,” ucapnya.

Atas dasar itu, ia percaya, investasi di bitcoin cash memiliki masa depan yang lebih cerah dibandingkan dengan investasi di bitcoin. Menurut dia, bitcoin.com juga sudah secara aktif mempromosikan bitcoin cash dan telah menyetop layanan terkait bitcoin. Sebelumnya, situs yang didirikan pada 2015 tersebut, menyediakan beragam layanan terkait bitcoin, termasuk bitcoin casino, layanan berita, hingga pertambangan bitcoin atau bitcoin “mining pool”.[] KATADATA

Continue Reading

Ekonomi

Aceh Jaya Gelar Musrenbang

Published

on

By

Ilustrasi

PEMERINTAH Kabupaten Aceh Jaya melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Kabupaten Aceh Jaya tahun 2017-2022, di Aula Setdakab, Rabu, 13 Desember 2017.

Kepala Bidang Penelitian Pengembangan dan Program Pembangunan Bappeda Aceh Jaya, Rahmad Oriza menuturkan, Musrenbang tersebut untuk media konsultasi publik sebagai dasar penyusunan RPJKM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Kabupaten Aceh Jaya tahun 2017 – 2022, sesuai dengan visi misi bupati-wakil bupati.

Bupati Aceh Jaya Irfan TB mengatakan visi dari Musrenbang tersebut untuk mewujudkan gerakan pembangunan rakyat Aceh Jaya. “Sesuai dengan yang tertuang dalam dokumen rancangan tahun 2017 – 2022. Visinya, terwujudnya gerakan pembangunan rakyat Aceh Jaya sehat, ekonomi, kejayaan agama, tangguh infrastruktur dan informatif, serta potensi sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif. Disingkat dengan sebutan Gerbang Raja Sejati,” terang Irfan.

Ia mengintruksikan para Kepala SKPK untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan serius dan aktif. Serta mengharapkan seluruh peserta yang hadir dapat memberikan masukan yang positif untuk penyusunan RPJMK Aceh Jaya.[] KBA.ONE

Continue Reading

Ekonomi

Kisah Labi-labi yang Digeser Trans Kutaraja

Published

on

By

Labi-labi di Banda Aceh | KBA.ONE/Syukran Jazila

DI tengah rintik hujan Jumat pagi, 13 Oktober 2017, Efendi dengan lahap menikmati sepiring mie Aceh di bak belakang labi-labinya. Labi-labi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kura-kura kecil yang hidup dalam air tawar. Tapi labi-labi yang ini jenis angkutan dalam kota yang dimodifikasi dari mobil bak terbuka.

Sepiring mie itu tandas dalam beberapa menit saja. Namun, belum ada penumpang yang naik. Di dekat labi-labi Efendi, ada beberapa angkutan serupa yang juga ikut mangkal. Mereka berjejer menunggu penumpang di Jalan Perdagangan, Banda Aceh, di sebelah kiri Masjid Raya Baiturrahman.

Sepinya penumpang dirasakan Efendi dan para supir labi-labi lainnya sejak beberapa tahun belakangan. Kondisi ini berbeda pada 2005 ketika Efendi memulai pekerjaannya itu. Saat itu, Kota Banda Aceh masih remuk redam setelah tsunami. Banyak orang dari luar Aceh terutama pekerja kemanusiaan lalu lalang di kota. Penumpang labi-labi pun melimpah, terutama ke Darussalam yang menjadi rute Efendi. “Alhamdulillah saat itu sehari dapat rezeki Rp100 ribu sampai Rp200 ribu,” ujar Efendi.

Setelah proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh selesai, penumpang labi-labi sedikit demi sedikit berkurang. Lalu sekarang, “sehari Rp100 ribu nggak dapat,” ujar Efendi. Ia pun ditinggalkan kernet yang telah beberapa tahun menemaninya. “Karena pendapatan berkurang, makanya dia nggak sanggup kerja lagi.”

Sekarang Efendi bekerja sendiri tanpa kernet. Jumlah penumpang pun kian berkurang. Seharian, kadang ia hanya mengangkut tiga atau empat penumpang saja.

Efendi menilai sepinya penumpang labi-labi karena masyarakat sekarang mulai suka menggunakan angkutan online. “Apalagi masuk (bus) Trans Kutaraja, banyak mahasiswa dan umum lebih memilih naik angkutan itu, karena tidak bayar,” keluhnya.

Trans Kutaraja sejenis angkutan massal yang diluncurkan pemerintah pertengahan tahun ini. Sejak dioperasikan pada 29 Mei lalu, angkutan ini digratiskan bagi seluruh penumpang. Seperti dilansir dari situs Dinas Perhubungan Aceh, hingga Mei trayek yang telah beroperasi adalah Darussalam-Pusat Kota. Di jalur ini, ada 11 bus Trans Kutaraja yang mengangkut penumpang. Jalur tersebut sama seperti rute labi-labi yang dikemudikan Efendi.

Sepinya penumpang memaksa Efendi mencari strategi lain. Ia tidak pernah masuk terminal khusus labi-labi di kawasan Keudah. Dia memilih untuk menunggu di tempat-tempat lain, yang tak terjangkau dengan Trans Kutaraja. “Di Keudah saja tidak mangkal lagi, kadang mutar-mutar. Di sini dekat masjid raya kalau mangkal,” ujarnya. Adapun terminal labi-labi tersebut jika malam sekarang digunakan sebagai lapak para pedagang sepatu.

Labi-labi yang dikemudikan Efendi bukan miliknya melainkan kepunyaan seorang toke. Karena itu, saban hari ia mesti menyetor setidaknya Rp80 ribu untuk si toke. “Itu pun kalau ada segitu. Dulu toke punya mobil 20 unit, semua ngangkut. Sekarang 10 mobil terpaksa mangkal di rumah, bahkan ada yang dibuat jadi mobil (untuk) kios jualan,” ungkapnya.

Tarif labi-labi Efendi Rp4 ribu untuk mahasiswa dan Rp5 ribu bagi penumpang umum. Tarif ini naik seribu dibandingkan beberapa tahun lalu. “Kalau Trans (Kutaraja) bahkan nggak bayar,” ujar Efendi.

Selain Trans Kutaraja, Efendi juga melihat angkutan online turut bertanggungjawab dalam menggerus penumpang labi-labi. “Sempat ribut kemarin di Lampineung, karena kami ambil penumpang di sana tiba-tiba ada angkutan online (taksi). Permainan harga mereka lebih murah ketimbang kami. Kalau (tarif) kami Rp3 ribu Lampineung ke Rumah Sakit Jiwa (Aceh), mereka bisa pasang harga Rp2 ribu,” ujarnya.

Kurangnya penumpang juga dirasakan Syarifuddin, supir labi-labi lainnya. Dulu pendapatannya Rp200 ribu sehari. “Sekarang Rp100 ribu saja sekarat kita cari,” keluhnya.

Syarifuddin merasakan berkurangnya penumpang sejak dua tahun belakangan. Hal itu diperparah dengan kehadiran angkutan online dan Trans Kutaraja. “Sebelum ada mereka sanggup kita bawa pulang belanja ke rumah, sekarang harus ke sana sini cari penumpang yang banyak.”

Di tengah kondisi itu, Syarifuddin juga harus terus memikirkan kondisi labi-labinya. “Ini mobil (Suzuki) Carry tipe lama, kalau rusak ya sudah nggak ngangkut lagi.”

Syarifuddin berharap Pemerintah Aceh jangan hanya memikirkan program yang baru apalagi terkait usaha angkutan umum online. “Seharusnya mereka pikir juga kayak kami ini, labi-labi. Ini trans, taksi online, gojek-gojek itu di mana-mana ada mereka,” ujar Syarifudin dengan nada tinggi; menyiratkan dia tak rela jika angkutan yang pernah mengisi hari-hari masyarakat Banda Aceh ini “mati”.[] KBA.ONE

Continue Reading

Copyright © 2015