PERBANKAN syariah di Indonesia tumbuh baik sejak 2006 hingga 2010 ketimbang bank konvensional. Jumlahnya sekitar 20 hingga 50 persen, sementara bank konvensional sembilan hingga 18 persen.

Namun, setahun terakhir persentase pertumbuhan bank syariah anjlok. “Menurun menjadi sekitar 15,5 persen,” ujar Koordinator Keuangan dan Jaringan BNI Syariah, Wahyu Avianto, saat ‘Bincang-bincang Bersama Jurnalis dan Launching Jurnalis Ekonomi Syariah (JES) Aceh” di Hotel Hermes, Banda Aceh, Senin, 22 Agustus 2016.

Penyebab penurunan aset bank syariah, kata Wahyu, karena lima tahun sebelumnya, bank-bank syariah berlomba meraup untung besar. Bahkan, kata dia, ada yang terperangkap dengan riba.

“Kita lupa untuk mengingatkan kembali mengapa bank syariah itu harus ada. Esensi pendirian perbankan syariah yaitu menghindari riba,” ujarnya. BNI Syariah, kata dia, terpanggil mengajak para pihak melakukan sistem perbankan syariah sesuai khittah yang bebas dari riba.

Bincang-bincang tersebut juga dihadiri Corporate Communication BNI Syariah Endang Rosawati, Corporate Secretary Bank Aceh Amal Hasan, Direktur Eksekutif SPS (Serikat Perusahaan Pers) Asmono Wikan, Ketua JES Joglosemar (Yogyakarta-Solo-Semarang) Heri Purwata, dan Ketua SPS Aceh Imran Joni.

Di akhir acara diluncurkan JES Aceh. JES merupakan sekumpulan wartawan yang meliput kegiatan ekonomi syariah. “Yang kita cover itu perbankan, asuransi, pasar modal, bursa komoditas, multifinance, dan semua yang berkaitan dengan ekonomi syariah,” ujar Bendahara JES Jakarta, Rabiatun.

JES Aceh diketuai Dadang Heriyanto, wartawan Tabloid Modus. Dadang terpilih sebagai Ketua JES Aceh periode pertama setelah dilakukan pemungutan suara oleh para jurnalis.[]RZ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.