AUSTRALIA bergabung dengan para anggota senior Pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, perwakilan dari Palembang dan Makassar, menandatangani dokumen rancangan rekayasa proyek pengolahan air limbah di kedua kota tersebut.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, mengatakan program seperti itu mengubah kehidupan, khususnya bagi perempuan dan anak-anak yang rentan terhadap penyakit dari air limbah tak terolah. “Dan perempuan bertanggungjawab atas perawatan anggota keluarga yang sakit serta mengambil air dari sumur dan sungai,” tutur Grigson.

Kemitraan, kata dia, mendukung Pemerintah Indonesia yang berupaya mencapai akses seratus persen ke air bersih dan sanitasi dasar pada 2019 sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka panjangnya.

Perusahaan-perusahaan swasta seperti PT. Denka Indonesia, MHW Consulting Pty Ltd, EnviroSolutions & Consulting, Cardno Emerging Markets Pty Ltd, Snowy Mountains Engineering Corporation (SMEC) dan Mott MacDonald Indonesia akan berbagi kepakaran mereka dalam proyek tersebut.

Australia telah memberikan bantuan teknis untuk pengembangan Rencana Induk Manajemen Air Limbah kepada delapan kota:  Batam, Palembang, Pekanbaru, Bandar Lampung, Cimahi, Bogor, Surabaya, dan Makassar.

Di Palembang, kata Grigson, Australia akan memberikan pendanaan, sementara konstruksi di Makassar didukung oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).

Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Ditjen Cita Karya, Dodi Krispratmadi mengatakan total kebutuhan biaya ditaksir  US$146,47 juta, atau Rp1,9 triliun.

“Kalau yang di Palembang sebesar US$70,77 juta (Rp920 miliar) akan dipenuhi dari kombinasi US$28,97 juta dari hibah Pemerintah Australia, US$23,5 juta dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan US$18,3 juta dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah),” kata Dodi di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Selasa 24 Mei 2016.

Dana tersebut digunakan untuk pembangunan konstruksi saluran air limbah dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), termasuk pematangan lahan. “Pelaksanaan konstruksi IPAL dan jaringan air limbah Kota Palembang, akan dimulai triwulan pertama tahun 2017,” tutur dia.

Untuk pembangunan di Makassar, kata Dodi, menggunakan sumber pembiayaan dari kombinasi Pinjaman Asian Development Bank (ADB), APBN, dan APBD. Total kebutuhan dana S$75,7 juta (Rp984,1 miliar) yang akan didanai sebesar US$40,6 juta dari pinjaman ADB, US$22,5 juta dari APBN, dan US$12,6 juta dari APBD.

“Pelaksanaan konstruksi IPAL dan jaringan air limbah kota Makassar, akan dimulai pada triwulan ke dua tahun 2017. Sementara, pekerjaan pematangan lahan dilaksanakan mulai triwulan ketiga tahun 2016,” kata dia.

Pembangunan jaringan saluran limbah dan IPAL ini merupakan tindak lanjut atas kerja sama Indonesia dan Australia, yang sudah terjalin sebelumnya dalam rangka menyusun masterplan pengolahan air limbah untuk delapan kota di Indonesia yang telah dimulai pada 2010.[] RILIS | VIVA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.